Home / KOLOM DIREKTUR / DZIKIR “POLITIK” KEBANGSAAN (INDONESIA) ?

DZIKIR “POLITIK” KEBANGSAAN (INDONESIA) ?

Assalamualaikum wrwb.
Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri anugrah dan karunia-Nya, agar kesehatan dan kenikmatan yang kita terima dari Allah dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut setia beliau yang istiqamah meneladani beliau. Semoga syafaat beliau, kelak di akhirat akan memayungi kita semua.
Saudaraku, Selasa, 1/8/2017 yang lalu, di Istana Negara Jakarta digelar Majelis Dzikir Kebangsaan (Indonesia). Saya yang menambahkan Indonesia. Karena yang berdzikir adalah sebagian bangsa Indonesia yang menerima undangan dan hadir di Majelis tersebut. Tentu saja, ada banyak ulama yang diundang. Dan yang pasti ulama yang setuju dan boleh jadi terbuasa dengan acara dzikir kebangsaan.
Koran nasional memberitakan gambar dan caption di halaman dua, dalam rubrik politik. Ini memberi pesan, bahwa dzikir kebangsaan adalah kegiatan politik. Itu kira-kira jika penempatan berita tersebut, difahami. Tentu tidak salah, meskipun belum tentu benar. Karena apapun kegiatannya, musik, budaya, dan terlebih kegiatan bernuansa keagamaan, yang terkait dengan term kebangsaan, apalagi bertempat di Istana Negara, maka pasti tidak bisa dihindari adanya tafsir “spekulatif” bahwa itu adalah Dzikir “Politik” Kebangsaan Indonesia.
Tafsir berikutnya, kira-kira yang ada di benak dan pikiran teman-teman yang memiliki seni “political-mindset”, akan memberi tafsir “politik” juga, bahwa “RI-1” sedang membangun “sayap koalisi” versi baru yang boleh jadi agak kontradiksi dengan statemennya beberapa waktu yang lalu, bahwa politik tidak perlu dikait-kaitkan dengan agama. Sudah barang tentu, kontroversi dan silang pendapat pun mengemuka, terlebih di media sosial. Selain memang agak terasa di sisi lain, di negeri ini adanya fenomena “sekularisasi” yang meminjam pendapat Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, radikalisme sekuler.
Saudaraku, dalam situasi kehidupan politik yang “tensinya” cukup fluktuatif, dari agak panas karena wacana pemanfaatan dana (jamaah) haji yang hampir mencapai 100 trilyun rupiah untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Sisa-sisa pilkada DKI juga ikut mempengaruhi atmosfer politik. Belum “dingin” tensi politik, suhu dipanaskan lagi dengan pembubaran ormas HTI setelah lahirnya Perpu No. 2/2017 tentang Ormas. Perpu yang belum berumur satu bulan pun, sudah diajukan yudisial reciew, karena beberapa pihak merasa, bahwa Perpu ini dipandang kontrakdiksi dan menggerus demokratisasi yang dibangun susah payah sejak reformasi.
Apakah kemudian dengan “dzikir kebangsaan” ini, akan berdampak positif sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai hamba Allah diperintahkan berdzikir agar senantiasa ingat kepada Allah, dan dengan demikian kita sebagai warga negara bangsa Indonesia ini akan mendapatkan ketenangan. Jawabannya tentu sangat tergantung siapa yang menjawab dan dari perspektif atau mindset dalam melihat even dzikir yang bernuansa spiritual keagamaan dan sekaligus bernuansa “politik” karena memang digelar di Istana Negara. Karena setiap even apapun tidak bisa terlepas dari lokus di mana even itu diselenggarakan dan timing yang menyertainya.
Apabila penafsiran dan pemaknaannya menggunakan “kacamata” politik, boleh jadi akan lahir tafsir, bahwa ini adalah “politisasi” dzikir namun tujuannya adalah “spiritualisasi” politik kekuasaan, agar lahir penyadaran kembali bahwa bangsa Indonesia ini lahir dan diproklamasikan atas dasar kesadaran penuh, selain atas perjuangan para pahlawan, ulama, dan seluruh rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan meskipun dengan peralatan dan senjata ala kadarnya waktu itu, adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 menyatakan, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Dalam perspektif demikian, maka dzikir kebangsaan mendapatkan momentum strategis untuk meneguhkan bahwa politik yang sekular, menjadikan tidak mendapatkan tempat di hati, pikiran, dan suasana kebatinan para pemimpin bangsa ini. Karena itu, kita masih layak menggantungkan harapan, negara-bangsa Indonesia ini, semoga makin tawadlu’ dan rendah hati mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Seseorang yang masih dan senantiasa berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, adalah indikator kecerdasan. Allah swt berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Sesunggunhya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kamk, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran: 190-191).
Saudaraku, bangsa Indonesia yang penduduknya terbesar keempat dunia, setelah Cina, Amerika, dan India, mayoritas penduduknya atau 87% memeluk agama Islam, merindukan keberkahan dan pertolongan Allah. Karena itu, sepatutnya setelah para pemimpin, pejabat politik, dan para tokohnya bekerja keras, perlu mendekatkan diri dengan rendah hati, beriman dan bertaqwa, bertawakkal kepada Allah SWT. Semoga Allah senantiasa menyiramkan keberkahan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. الاعراف ٩٦
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).
Mengakhiri renungan ini, mari kita simak pesan Al-Qur’an berikut:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. الرعد ٢٨
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati. Ereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du:28).
Semoga dzikir kebangsaan, adalah bagian dari spiritualisasi dan ikhtiar membuka kesadaran bagi pemimpin dan seluruh warga bangsa ini, bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah perwujudan rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, kita semua berkewajiban merawat, menjaga, mengisi, dan memajukannya, berdasarkan iman dan taqwa kelada Allah, berakhlaqul karimah, dan memiliki keunggulan kompetitif, agar siap memasuki persaingan global.
Semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, melimpahkan keberkahan Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai bersama, dan kita layak berharap akan terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 4/8/2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*