Home / KOLOM DIREKTUR / SEKOLAH, KEBHINNEKAAN, DAN AKHLAQUL KARIMAH

SEKOLAH, KEBHINNEKAAN, DAN AKHLAQUL KARIMAH

Assalamualaikum wrwb
      Saudaraku, mari kita senantiasa mensyukuri anugrah dan karunia Allah yang tidak pernah berhenti kita terima dan rasakan. Semoga Allah akan menambah anugrah dan nikmat-Nya pada kita. Shalawat dan salam mari kita sanjungkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, putra-putri beliau, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Semoga kelak di akhirat kita akan dipayungi syafaat beliau.
      Hari ini anak-anak kita memulai masuk sekolah lagi setelah libur Idul Fitri 1438 H. Di hari pertama anak-anak kita yang baru masuk pada peringkat sekolah jenjang atasnya, kelas 1 SD/MI dari TK, kelas 7 atau SMP/MTs peralihan dari SD/MI, dan kelas 10 atau SMA/SMK/MA peralihan dari SMP/MTs, akan disambut dengan meriah oleh keluarga besar sekolah di mana anak-anak kita diterima. Kepala Sekolah/Madrasah dan Bapak/Ibu Dewan Guru akan mengenakan busana adat untuk mengenalkan kepada putra-putri atau anak-anak kita dengan keberagaman atau kemajemukan.
      Keberagaman atau ke-Bhinnekaan adalah fakta sosial dan sejarah sekaligus, bahwa di dunia ini di mana pun adanya selalu ada keragaman. Karena keragaman atau kebhinnekaan adalah hukum alam, natural law, atau sunnatuLlah yang memang dirancang oleh Allah SWT, Sang Khaliq yang menciptakan alam raya ini.
       Demikian juga jika di sekolah-sekolah umum, agama yang dianut oleh peserta didik juga boleh jadi ada yang berbeda, atau bahkan ada yang penganut aliran kepercayaan. Ini berbeda dengan di madrasah yang pada umumnya seratus persen peserta didiknya adalah muslim. Berbeda lagi di sekolah-sekolah non-Islam biasanya di sana ada juga peserta didik yang beragama Islam, meskipun yang banyak tentu peserta didik yang seagama dengan visi dan misi Yayasan.
       Saudaraku, madrasah atau sekolah, adalah domain pendidikan kedua setelah keluarga. Peran keduanya sama-sama sangat menentukan bagi pembentukan kecerdasan intelektual, spritual, dan emosional anak. Meskipun apabila menganut teori efektifitas pendidikan dini, maka fondasi utama pendidikan adalah di keluarga. Rasulullah saw sudah mengingatkan kepada kita:
روى البخاري في صحيحه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ)، هذا الحديث النبوي يشهد على صدق النبي الأعظم صلى الله عليه وسلم.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah dari bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid/Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi”. Hadits Nabawi ini atas kebenaran Nabi Agung saw.
       Kedua orang tua mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meletakkan fondasi dan bangunan dasar pendidikan agama, akhlaqul karimah, termasuk di dalamnya dalam soal implementasi akhlaqul karimah dalam kehidupan bersama yang beragam. Hidup bertetangga, berteman, bersosialisasi di masjid atau mushalla, dan berkumpul dengan lingkungan yang beragam agama, budaya, dan etnis. Boleh jadi di daerah pedesaan atau di kampung yang hampir seluruhnya muslim atau sebaliknya non-muslim, maka sikap anak-anak mayoritas terhadap anak-anak minoritas ini, agak aneh. Karena berbeda dengan lingkungan mereka.
      Karena itu, penanaman akidah dan pendidikan agama Islam bagi yang muslim, dan agama masing-masing menjadi sangat penting. Demikian juga penanaman kesadaran bahwa kemajemukan adalah sunnatuLlah atau hukum alam. Apalagi anak-anak kita hidup di era global, di mana dunia ini nyaris tak berbatas (borderless) dan dari kemajuan information dan technology (IT) memungkinkan hari ini terdapat peristiwa tertentu, saudara-sausara kita di Amerika, di Jepang, di Eropa, bisa langsung cepat mengetahui karena internet, media sosial, dengan segala macamnya.
       Islam adalah agama perdamaian dan agama kasih sayang. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Karena itu Islam mengajarkan kedamaian, kelembutan, kasihbsayang, menghormati sesama, menghormati tetangga, bahkan menyayangi makhluk lainnya di dunia ini. Bahkan dengan binatang tertentu Rasulullah saw mengajarkan untuk menyayanginya.
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ. الحجرات ١٣
“Hai manusia, sesungguhnya Kami mendiptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antarabkamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat:13).
       Madrasah atau sekolah merupakan domain pendidikan strategis yang selain menyiapkan peserta didik yang beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dan budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah) agar mereka siap menjadi lulusan yang siap berkompetisi dalam kehidupan bersama. Karena itulah, si madrasah atau di sekolah, mereka digembleng, dididik, dan diarahkan menjadi manusia yang berkualitas, agar di tengah era kompetisi dan era global mereka memiliki daya saing dan unggul dalam prestasi dan integritas pribadi yang kuat sebagai umat yang beragama yang hidup, tumbuh, besar, dan siap menjadi generasi muda yang layak untuk dibanggakan.
      Para peserta didik diarahkan menjadi anak-anak yang cerdas dan religius, agar hidupnya nanti akan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, bangsa dan negaranya. Untuk itu, pihak sekolah juga perlu mengawal mereka menjadi waega negara Indonesia  yang bangga sebagai warga negara Indonesia. Indonesia adalah bangsa besar yang pada saatnya akan menjadi kiblat dunia, menjadi warga yang kuat, berkepribadian Indonesia, dan memiliki keunggulan dan siap bersaing di dalam era persaingan dan tidak mudah terombang-ambingkan oleh pengaruh-pengaruh negatif baik ideologi, budaya, dan faham-gaham agama yang tidak sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara Pancasila.
      Domain pendidikan berikutnya adalah di masyarakat. Meskipun fondasi pendidikan sudah dibangun dan dilanjutkan bangunan pendidikan akhlaqul karmah telah ditanamkan di sekolah/madrasah, masyarakat juga turut menentukan atau setidaknya mempengaruhi masa depan mereka. Pada masyarakat yang sedang dan terus akan berubah, di mana pengaruh IT demikian dahsyat, maka kontrol orang tua juga sangat menentukan. Pengaruh dan godaan narkoba, juga demikian dahsyatnya. Indonesia sudah dinyatakan sebagai negara “darurat narkoba”. Setiap hari menurut data Basan Narkotika Nasional (BNN) tidak kurang dari 57 anak muda meninggal dunia sia-sia setiap hari akibat menjadi korban penyalahgunaan narkoba dan barang haram lainnya. Demikian juga pengaruh pornografi baik melalui internet atau akses smartphone yang nyaris duapuluh empat jam tanpa henti, jika tidak ada kontrol dan komunikasi yang baik dan berkualitas antara orang tua dan anak, antara anak dan pihak sekolah, bukan tidak mungkin mereka akan terjebak dalam kehidupan yang menjadi biang penyesalan selama hidupnya.
       Saudaraku, kita memang harus percaya dan menyerahkan anak-anak kita ke madrasah dan sekolah, akan tetapi sehebat apapun sekolah mendidik, mengawasi mereka, akan tetapi sekolah juga punya keterbatasan waktu. Karena itu, perlu kerjasama yang padu, simbiotik mutualistik, antara orang tua, sekolah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan yang mengatur konten-konten IT dan akses internet. Kebebasan merulakan sesuatu yang penting, akan tidak ada kebebasan tanpa batas.
       Demikian juga pendidikan kebebasan, keasilan, kejujuran, dan kesantunan, belakangan ini menjadi sesuatu yang mahal, karena akibat dari keputusan-keputusan politik yang siambil oleh para pejabat, juga harus mendapat pengawalan dan daya dan sikap kritis dari  orang tua. Bagaimana pun anak-anak kita adalah kebanggan kita yang siap menjadi para pemimpin bangsa ini.
       Marilah kita antarka, fasilitasi, dan bahkan jika kita sebagai kedua orang tua sibuk karena harus bekerja, jika memungkinkan, mereka kita tambah pelajaran dna pendidikan agama dengan cara mengundang guru privat untjk menambahi bekal pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang memadai, agar mereka memiliki kepribadian yang utuh dan kuat sebagai warga negara Indonesia yang religius dan berbudi pekerti mulia atau berakhlaqul karimah.
Kepada anak-anak kita kita mengharapkan mereka akan menjadi pemandangan yang menyenangkan (qurrata a’yun), jangan sampai terjadi “anak polah bopo kepradah” atau “anak bertingkah orang tua yang menuai penderitaannya”, apalagi jika sampai “bopo polah anak kepradah” artinya “orang tua bertingkah anak yang menanggung penderitaannya”. Kalaupun kita sebagai orang tua dalam soal ilmu boleh jadi harus belajar kepada anak-anak kita, tetapi kita harus memiliki kesadaran dan kebanggan pada anak-anak kita, karena anak-anak kita itu, terletak masa depan kita dalam kehidupan panjang kita.
       Setelah kita berikhtiar dan bekerja keras mendidik anak-anak kita, baik di lingkungan keluarga, di madrasah/sekolah, kita berdoa memohon kepada Allah, semoga anak-anak kita menjadi generasi khaira ummah yang berkualitas, mereka akan menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yang akan kita nantikan doanya kerika kita hidup di alam penantian atau alam barzakh. Mereka menjadi waladin shalih yad’u lahu, Amin. Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 17/7/2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*