Home / KOLOM DIREKTUR / KALA PEMUDA INDONESIA YANG BANGGA PADA KE-INDONESIA-ANNYA KEHILANGAN TELADAN

KALA PEMUDA INDONESIA YANG BANGGA PADA KE-INDONESIA-ANNYA KEHILANGAN TELADAN

Assalamualaikum wrwb.
       Mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah. Hanya karena pertolongan-Nya kita sehat afiat. Semoga Allah menambah kenikmatan-Nya pada kita, dan semua urusan kita dimudahkan oleh-Nya. Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, para sahabat. Semoga kasih sayang-Nya juga meluber pada kita sebagai pengikut beliau, dan di akhirat kelak kita mendapat syafaat beliau.
       Saudaraku, masih dalam suasana memperingati hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa satu bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbahasa satu bahasa Indonesia.
       Sumpah pemuda tersebut mengungkit kesadaran seluruh pemuda Indonesia dari berbagai daerah dan menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan dan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Setelah 17 tahun berikutnya, dengan melalui perjuangan panjang, pengorbanan nyawa, harta, dan semua yang dimiliki untuk melawan penjajah, serta pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, negara kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya.
       Rupanya tidak mudah bagi pemerintah Belanda dan Jepang yang sudah menikmati rasanya sebagai penjajah untuk menerima kemerdekaan Indonesia. Bung Karno pun dalam usia kemerdekaan Republik Indonesia (RI) baru 3 (tiga) bulan, pemerintah Belanda selain tidak mengakui kemerdekaan RI, juga “mengklaim” bahwa kemerdekaan RI itu adalah hadiah dari pemerintah Jepang, berkonsultasi dengan Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
        NU menggelar acara Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, pada 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Melalui konsul-konsul yang datang pada pertemuan tersebut, me hamlaikan Resolusi Jihad dan disebarluaskan ke seluruh lapisan pengikut NU khususnya dan umat Islam umumnya di seluruh pelosok Jawa dan Madura.
           Adapun isi Resolusi Jihad NU sebagaimana dimuat pada harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945, adalah tuntutan Ulama dan warga NU se Jawa dan Madura kepada Pemerintah RI supaya mengambil tindakan yang sepadan terhadap Belanda  dan pihak-pihak yang mengganggu upaya kemerdekaan RI. Bagi warga NU dan Alim Ulama berkewajiban mempertahankan dan menegakkan agama dan kedaulatan negara RI merdeka. Karena mempertahankan dan menegakkan Negara RI menurut hukum agama Islam, adalah suatu kewajiban bagi tiap orang Islam. Sebagian besar warga negaranya terdiri dari umat Islam.
         Oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan kejahatan dan kekejaman yang menganggu ketentraman umum. Mereka ingin merusak kedaulatan dan menjajah kembali negara RI. Para Ulama sangat menghormati pada pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk memerintahkan rakyatnya agar menghadapi Belanda dan Jepang. Karena itu, Ulama meminta dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap uaha-usaha yang akan membahayakan Kemerdekaan, Agama, dan Negara Indonesia, dengan memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik  Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
         Resolusi tersebut merupakan momentum yang sangat genting dan strategis, sekaligus dengan bahasa yang sangat santun, memberikan spirit dan “amunisi” besar, agar terus melanjutkan perjuangan bersifat “sabiliLlah”  mempertahankan kemerdekaan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
         Karena Resolusi Jihad itulah Pemerintah RI kemudian menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Pengakuan ini tentu bukan tanpa dasar dan alasan, akan tetapi didasari realitas sejarah yang bersifat heroik, sabiliLlah dan pada moment yang sangat menentukan. Jika tanggal 22 Oktober 2017 yang lalu, diperingati Hari Santri Nasional, adalah dalam rangka merefresh ingatan bangsa ini kembali, agar kita tidak lupa pada jas merah, “jangan melupakan sejarah”. Meminjam bahasa Al-Qur’an, dinyatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
       Saudaraku, anak-anak muda Indonesia sekarang ini — sering disebut sebagai generasi millenial — memang sedang dilanda oleh “wabah” dan “sergapan” IT (information and technology) yang di mana-mana mereka asyik dengan gadget dan smartphone mereka sendiri, dan abai pada lingkungannya. Di ruang kuliah, di halte, di masjid, dan tempat ibadah lainnya, bahkan di rumah dengan anggota keluarga sendiri, mereka sudah banyak yang “kecanduan” dengan alat komunikasi ini.
       Ini melanda hampir semua kalangan. Bahkan ceritaseorang Imam Masjidil Haram Mekah, bisa menangis karena mendengar alunan musik saat sedang mengimami shalat, yang di rumah pun tidak pernah mendengarnya. Di hampir semua tempat ibadah, ditempel pengumuman tertulis, dan ketika ibadah akan dimulai, diingatkan oleh pengurus, “demi kekhusyu’an ibadah, mohon hp dimatikan atau disilent”. Saking seringnya terjadi bunyi dering ringtone hp yang pasti mengganggu konsentrasi dan kekhusyu’an ibadah.
        “Hubbul wathan minal iman” atau “cinta tanah air asalah sebagian dari iman”. Ini kata bijak berbahasa Arab yang ditanamkan oleh para Kyai dan Ulama pada santrinya. Bahkan ada juga lagu “Ya Lal Wathan” yang lagu dan syairnya harus dinyanyikan dengan penuh heroik. Lagu yang digubah oleh KH A Wahab Hasbullah ini, memang dimaksudkan untuk membangun rasa cinta kepada tanah air secara teologis, karena dikaitkan dengan iman. Syair lagu Ya Lal Wathan adalah sebagai berikut:
       Pusaka hati wahai tanah airku
       Cintamu dalam imanku
       Jangan halangkan nasibmu
       Bangkitlah, hai bangsaku!
       Indonesia negriku
       Engkau Panji Martabatku
       Siapa datang mengancammu
       Kan binasa di bawah dulimu
       Saudaraku, anak-anak muda generasi millenial Indonesia sangat membutuhkan bimbingan, panutan, dan keteladanan. Mereka tidak boleh diejek, apalagi dianggap sebagai generasi yang tidak memiliki skill pekerjaan. Dan semoga tidak benar, penilaian atau statemen demikian, dinyatakan oleh oknjm seorang menteri kordinator, karena itu “pekerjaan besar atau proyek besar di Indonesia, harus diserahkan kepada pekerja dari “negara sebelah” yang menurut Cak Nun, Kyai Kanjeng, adalah “guru besar” yang segalanya harus diabdikan untuk dan kepada guru besar tersebut. Apakah statemen seorang “menko” dan Cak Nun, itu benar atau tidak, atau hoax, memang harus diklarifikasi. Karena zamannya memang “zaman hoax”.
       Kata Al-Qur’an, tanda-tanda orang yang cerdas atau ulil albab, adalah orang-orang yang mau mendengarkan kata-kata orang lain dan mau mengikutinya yang terbaik (الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه ) (QS. Az-Zumar:18).
Apabila benar ada seorang “oknum” menteri koordinator, mengatakan bahwa tenaga kerja Indonesia tidak punya skill, tentu ini adalah sebuah “penghukuman dan penghinaan” atas generasi muda bangsanya sendiri. Semoga saja pernyataan tersebut tidak benar. Ini mengingatkan kita, pernyataan Bung Karno, “right or wrong is my country” artinya “benar atau salah, ini adalah negaraku”. Jadi saya harus bangga pada negaraku.
      Apalagi ketika ditambah upaya-upaya untuk mengajak pejabat politik lain untuk mencabut atau menabrak “moratotium penghentian proyek reklamasi” di negara antah berantah, yang sudah diputuskan oleh Mahkamah Agung yang notabene sebagai lembaga yudikatif pada hirarkhi tertinggi. Lagi-lagi semoga gubernur DKI yang belum lama dilantik, memiliki sikap independen, taat asas, dan berkomitmen kepada upaya mensejahterakan kepentingan umum, bukan kepentingan beberapa gelintir orang yang ingin “menguasai” negeri ini.
       Saudaraku, sebagai bagian dari bangsa ini, kita semua prihatin, karena makin hari makin langka kita mendapatkan keteladanan. Padahal keteladanan para pemimpin akan merulakan proses pendidikan dan penyadaran kepada generasi muda yang sangat efektif. Ini mengingatkan ajaran tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara, ing ngarso sung tulodho, ung madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya “di depan menjadi teladan, di tengah membangun kreasi, dan di belakang mendukung dan memberi kekuatan atau daya”.
      Saudaraku, Indonesia ini negara besar. Penduduknya terbesar keempat setelah India, China, dan Amerika. Pemeluk Islamnya terbesar di dunia. Jamaah hajinya juga terbesar di dunia. Sebentar lagi kita dapat bonus demografi. Penduduk usia 15-64 tahun akan mencapai 50% dari total penduduk 262 juta di tahun 2020-2045. Generasi muda kita juga banyak yang pintar, cerdas, dan berkelas internasional. Banyak mereka yang memenangi Olimpiade Internasional. Jadi kita musti dan harus bangga menjadi generasi muda Indonesia. Yang tua juga harus menghargai, tidak malah sebaliknya, “menghina,  melecehkan, dan menjatuhkan mental anak-anak muda” agar mereka menjadi generasi masa depan yang andal. Karena suka atau tidak suka, sadar atau tidak, mereka yang akan menjadi pemimpin masa depan Bangsa Indonesia ini. Mereka tidak rela menjadi kuli di Negerinya sendiri. Karena mereka harus menjadi Tuan di negerinya sendiri.
      Semoga, kita semua bisa belajar menjadi arif, bijaksana, dan menjadi teladan bagi anak-anak muda kita. Dan Allah memudahkan mereka untuk mencintai negara dan bangsanya, Indonesia. Allah a’lam bi sh-shawab.
Ngaliyan, Semarang, 29/10/2017.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *