Home / KOLOM DIREKTUR / KHAWARIJ, ISIS, TERORIS, DAN ISLAMOPHOBIA

KHAWARIJ, ISIS, TERORIS, DAN ISLAMOPHOBIA

Assalamualaikum wrwb.
      Saudaraku, mari kita bersyukur kepada Allah, yang telah menganugrahkan kesehatan lahir batin, dan kita dapat melaksanakan aktifitas kita hari ini tanpa suatu halangan yang berarti. Semoga Allah menambahkan nikmat dan pertolongan-Nya pada kita semua. Shalawat dan salam, mari kita sanjungkan untuk tokoh teladan kita, Rasulullah Muhammad saw, keluarga, para sahabat, dan pengikut beliau. Semoga kita sebagai umat beliau yang rajin bershalawat, akan mendapat luberan keberkahan dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan semua persoalan kita diurai dan dimudahkan oleh Allah.
      Kelompok Khawarij – berasal dari kata kharaja – yakhruju – kharij artinya keluar, atau nyempal, muncul akibat kekecewaan dari para pengikut Sayyidina ‘Ali atas peristiwa politik arbitrase (tahkim) antara pihak khalifah keempat ‘Ali bin Abi Thalib karrama Allah wajhahu yang semula nyaris memenangi peperangan Sifin dengan pihak Mu’awiyah. Pasukan Muawiyah mengangkat mushaf di ujung tombak, meminta gencatan senjata. Setelah gencatan senjata, mereka mengajukan tahkim. Namun dalam peristiwa tahkim tersebut, berakhir dimakzulkannya Sayyidina Ali, dan munculnya Muawiyah menjadi khalifah pertama Bani Umayyah.
       Peristiwa tahkim tersebut, oleh kelompok Khawarij tersebut,  dianggap sebagai penyelesaian politik yang tidak sesuai dengan garis Alquran. Dengan merefer ayat “ini l-hukm illa liLlah” kaum Khawarij menganggap bahwa pihak-pihak  yang terlibat dalam peristiwa tahkim tersebut sebagai pelaku dosa besar. Karena itu, mereka dianggap “halal” darahnya, dan karena itu kaum Khawarij melakukan tindakan brutal membunuh mereka yang dianggap sebagai pelaku dosa besar. Sejarah kelam di penggal awal sejarah Islam, ini kemudian menimbulkan “trauma sejarah” yang tampaknya kemudian berulang, meskipun dalam bentuk dan versi yang berbeda.
      Terorisme, adalah faham yang mengedepankan kekerasan di dalam mewujudkan keinginan mereka. Tindakan teror bisa dilakukan oleh orang perorang, dan juga oleh “negara” yang karena merasa benar dan memiliki “kemampuan”, mereka ingin memaksakan keinginannya untuk menghancurkan wilayah atau bahkan negara tertentu yang menjadi sasarannya. Ketika dahulu tindakan teror berkembang menjadi penjajahan, dengan menguasai secara teritorial dan politik, di era postmodern sekarang, teror bisa bermuara pada penjajahan perdagangan, politik, ekonomi, dan terutama penguasaan sumber daya alam. Modusnya, adalah menjadikan “penguasa” atau “pejabat politik” warga setempat, akan tetapi tidak lebih sebagai “boneka” yang loyalitasnya adalah negara atau “juragan” yang menguasai, meskipun lebih banyak mengorbankan warga dan bangsanya sendiri.
      Belakangan ini marak berita tentang ISIS (Islamic State for Irak and Syria) atau berubah menjatentudi IS (Islamic State) yang sudah memakan kurban termasuk warga yang sipil yang tidak bersalah. Anehnya kelompok IS yang sudah memporakporandakan Syria ini, kemudian melakukan ekspansi, dan beberapa pengikutnya, yang aneh, adalah dari warga Indonesia, yang beberapa waktu lalu ikut baiat dan bergabung dengan ISIS. Padahal mereka ini termasuk kelompok takfiri. Orang lain yang tidak bergabung dengan mereka dianggap kafir.
       Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis (SM, 6/7/2017) ada 234 orang DPO (daftar pencarina orang) terkait terorisme. Dari jumlha tersebut, 91 orang terlibat IS. Menurut keterangan Dirjen Imigrasi Ronny F Sompie, Rabu (5/7) 91 orang itu terdiri dari waega negara Aljazair 1 orang, Indonesia 83 orang, Kuwait 2 orang, Saudi Arabia 2 orang, Syria 1 orang, dan Turki 2 orang. Data Badan Inteligent Negara (BIN) menyebutkan, tahun 2015 telah memberi sinyal potensi aksis teror,ratuaan alumni IS kembali ke tanah air, terdeteksi melakukan pelatihan oleh kelompok radikal bagi 423 orang mantan napi kasus terorisme. Masih data BNPT, tahun 2015 169 orang dipulangkan dari Syria, 50 orang tertangkap. Anehnya, tahun 2016 ada 500 WNI bergabung dengan IS di Syria, dan 1.000 terindikais berafiliasi dengan IS, dan ada 10 organisasi terdeteksi mendukung IS.
       Organisasi IS ini dalam beberapa sumber, merupakan “bentukan” Negara besar dan bersekutu dengan negara kecil lainnya, namun mampu membiayai dalam jumlah sangat besar, mensuplai senjata. “Isunya” mereka menjanjikan kepada siapapun yang mau bergabung termausk dari  Indonesia, dijanjikan gaji Rp 15 juta,-/bulan. Karena itu, tidak kurang dari tokoh sekelas Abu Bakar Baasyir pun sempat “tergoda” dan “berbaiat” ikut bergabung dengan IS tersebut. Sementara di kalangan para pegiat yang disebut “kelompok Jihadis” sendiri, IS dan yang mereka yang bergabung adalah kelompok takfiri yang dengan mudah mengafirkan orang lain.
         Bagi saya, ISIS yang bermetamorfosis menjadi IS, karena gagal di Syria, mencoba melakukan upaya di luar, dan yang menjadi sasaran mereka adalah Marawai, Philipina Selatan. Karena dikhawatirkan akan merembet masuk ke Indonesia, mereka ini harus di”habisi” sebelum memakan korban yang lan, dan berpotensi akan menimbulkan kegaduhan politik, ekonomi, dan keamanan. Karena itu, dilakukan patroli kerjasama tiga negara, Malaysia, Indonesia, dan Philipina.
        Tidak ada informasi “resmi” terkait dengan keberadaan IS ini, apakah mereka ini para pejuang sejati yang tumbuh dari bawah, atau mereka ini adalah “buatan” yang lebih cocok disebut sebagai “proyek Islamophobia” yang bertujuan “merusak” branding Islam dan menimbulkan “ketakutan” dunia internasional terhadap Islam, yang belakangan muncul menjadi fenomena baru, menarik banyak warga negara Eropa, Rusia, dan kawasan lainnya, yang berbondong-bondong masuk Islam.
        Islam agama yang visi, misi, dan tujuannya untuk  mewujudkan kasih sayang dan perdamaian ( rahmatan lil ‘alamin), sopan santun, budi pekerti yang luhur, toleran, moderat, seimbang, mengajarkan keasilan, saling menghormati, tolong menolong, persausaraan sejati, akan dirusak dengan tampilan kelompok “baru” yang “tidak berperadaban dan tidak berprikemanusiaan” itu. Ironisnya lagi, mereka mengaku sebagai penganut Islam Sunny (yang seharusnya merupakan kelompok yang berkomitmen mengikuti sunnah Rasulullah saw). Rasulullah saw adalah sosok yang lemah lembut (layyin), pemaaf, memohonkan pengampunan, mengajak musyawarah dalam berbagai urusan (QS. Ali Imran:159).
Sejak awal kemunculan IS di media, saya memperhatikan dan melihat tabiat IS yang tidak berperadaban, tidak berprikemanusiaan, arogan, dan brutal, menghabisi nyawa banyak orang dengan cara-cara barbar, dan sengaja dipertontonkan pada publik, menegaskan bahwa kelompok IS, saya sudah menaruh” kecurigaan dan keragu-raguan” bahwa mereka ini adalah kelompok “baru” yang tidak wajar. Kesimpulan saya, mereka ini dibentuk, dibiayai, dan sengaja melakukan berbagai kekerasan dan kebrutalan, demi untuk menghancurkan Islam, spirit, nilai, dan misi kemanusiaan dan peradaban dari dalam yang “mengaku” Islam.
      Itulah “kejahatan” mereka yang tidak senang kepada Islam akan menjadi pemantik yang menjasikan banyak orang tertarik dan bergabung masuk Islam. Ketika kepentingan politik sudah menguasai semua fikiran, penjajahan akan dilakukan dengan melakukan berbagai cara, dan bahkan menghalalkan kekerasan dan pembunuhan.
       Saudaraku, mari kita jaga diri, keluarga, tetangga kita, untuk tetap mengikuti dan menjalani ajaran agama kita sebagaimana Rasulullah saw mengajarkannya kepada kita, moderat, tidak ektreem baik kiri maupun kanan, agar hidup kita nyaman, tenteram, dan bahagia. Mari kita berikhtiar, negara kita ini tidak terperangkap oleh ajakan, hasudan, provokasi berbagai kelompok yang ingin merusak NKRI, mengganti Pancasila, dan kelompok separatis yang akan memecah belah kesatuan bangsa Indonesia.
      Semoga Allah menolong dan menyelamatkan  kita dan bangsa ini dari berbagai ancaman, ujian, dan cobaan yang akan menghancurkan bangsa ini. Mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita, agar Allah menurunkan keberkahan hidup, dan kita layak berharap suatu saat akan terwujud baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
       Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Jakarta-Semarang, 6/7/2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*