Home / BERANDA / DILEMA KEADILAN DI PUSARAN POLITIK DAN HUKUM

DILEMA KEADILAN DI PUSARAN POLITIK DAN HUKUM

Assalamualaikum wrwb.
      Mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah. Hanya karena kasih sayang dan anugrah-Nya kita sehat afiat dan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan kita hari ini dengan baik dna lancar. Semoga kemanfaatan dan keberkahan senantiasa menyelimuti kita.
       Shalawat dan salam mari kita senandungkan mengiringi Allah dan para Malaikat yang senantiasa bershalawat untuk Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut setia beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita akan dipayungi oleh syafaat beliau.
       Saudaraku, Anda yang rajin mengikuti berita di media, begitu mengetahui hakim Cepi Iskandar menerima dan mengabulkan praperadilan “tersangka” Setya Novanto, rasanya akan terbawa emosi kita menjadi ikut “geram”. Bahkan Komisi Yusdisial (KY) pun, ikut “gerah” dan “penasaran” dan sudah “ancang-ancang” akan menelusuri ada apa dan mengapa dengan hakim Cepi Iskandar. Bahkan sosiolog Imam B. Prasodjo pun tidak “tahan” menahan kegalauan dan “kegalauan”nya, dan mengungkapkannya lewat media sosial.
       Lebih dari itu, KY mempelajari laporan atas Cepi Iskandar, hakim Cepi. Cepi dilaporkan terkait dengan tidak diputarnya bukti rekaman yang diajukan KPK dalam pemeriksaan perkara praperadilan Novanto. Ketua KY, Aidul Fitriciada Azhari akan menindaklanjuti, dan melakukan “audit” apakah hakim Cepi profesional. Aidul, akan memulai menindaklanjuti laporan itu pekan ini. Proses ini bisa memakan waktu dua minggu sampai dua bulan ke depan.
       KY sudah mengambil langkah, kata Aidul, kita sudah mengumpulkan saksi dan bukti, nanti kita akan konfrontir satu sama lain. Kalau memang ditemukan dugaan pelanggaran, nanti kita akan memeriksa Pak Cepi sendiri”.
       Saudaraku, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita semua berbuat adil, karena dengan berbuat adil lebih dekat kepada taqwa. Allah SWT mengingatkan kepada kita:
يا ايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شناءن قوم على ان لا تعدلوا   اعدلوا هو اقرب للتقوى  واتقوا الله  ان الله خبير بما تعملون.  المائدة ٨
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8).
       Saudaraku, berbuat adil dan mewujudkan keadilan, memang tidak mudah. Karena di dalamnya mengandung subyektifitas. Adil dan keadilan bisa didefinisikan, akan tetapi tidak mudah diwujudkan dan diimplementasikannya. Rasulullah saw mengingatkan kita:
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( لو يُعطى الناس بدعواهم ، لادّعى رجالٌ أموال قوم ودماءهم ، لكن البيّنة على المدّعي واليمين على من أنكر..
Riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra. mengatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sekiranya manusia diberikan apa yang mereka inginkan atau tuntut, sungguh banyak orang akan menuntut harta-harta suatu kaum dan darah mereka, akan tetapi bukti itu wajib (ditunjukkan) oleh penuntut atau pendakwa, dan sumpah bagi orang yang mengingkarinya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
       Saudaraku, biarlah soal hakim Cepi, akan diperiksa oleh KY. Tampaknya, KY sudah mengantongi rekam jejak (track record) tentang hakim Cepi. Tahun 2014 dilaporkan karena kasus di Pengadilan Negeri Purwakarta. Kedua, tahun 2015 di PN Depok. Ketiga, laporan tahun 2016 kasus praperadilan PN Jaksel Nomor 110. Dan yang terbaru, praperadilan saudara Setya Novanto, 2017.
       Kita tidak tahu mana yang adil. Karena itu, bangsa ini sangat membutuhkan pimpinan yang jujur, baik dari pejabat legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Atau memang di negeri kita Indonesia yang kita cintai ini, sudah tidak mudah lagi mendapatkan kejujuran dan keadilan, karena sudah tergadaikan oleh kepentingan urusan materi-duniawi dan jabatan yang sarat dengan ujian dan cobaan materi. Atau sebaliknya, karena semua sudah menyatu antara hati, fikiran, dan kenyataannya, menjadi orang-orang yang jujur. Semoga demikian adanya, sehingga bangsa yang jujur akan siap-siap mendapatkan kemakmuran dan ketenteraman duniawi dan ukhrawi.
        Boleh jadi ketika hakim Cepi Iskandar memeriksa perkara praperadilan Setya Novanto, sudah meyakini bahwa berdasarkan bukti-bukti dan prosedur yang dilakukan oleh KPK ada kekurangan yang tidak dipenuhi. Tentu soal itu, pasti nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kita masih bisa berharap kepada KY untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Atau jangan-jangan yang adil hanya Allah saja, sementara para hakim tetap digelayuti keadilan sebagaimana dipersepsikan oleh dirinya. Allah a’lam bi sh-shawab.
       Mari kita simak peringatan Rasulullah saw kepada para hakim. Sebagaimana hadits berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ السَّمْتِيُّ حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ وَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ وَاثْنَانِ فِي النَّارِ فَأَمَّا الَّذِي فِي الْجَنَّةِ فَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَجَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ قَالَ أَبُو دَاوُد.
Muhammad bin Hassan as-Samti berkata kepada kami, Khalaf bin Khalifah menceritakan kepada kami, dari Abu Hasyim, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi saw bersabda: “Qadli atau hakim itu ada tiga, satu di surga, dan dua di neraka. Adapun hakim yang di surga, maka adalah seseorang (hakim) yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengan kebenaran. Seseorang (hakim) yang mengetahui kebenaran, dan sembrono dalam memutuskan hukum, maka ia di neraka. Dan seseorang (hakim) yang memutuskan (perkara) atas seseorang atas dasar kebodohan” (Riwayat Abu Dawud).
       Saudaraku, kita semua merindukan negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dalam UUD 1945 sudah menegaskan sebagai negara hukum, sudah semestinya menjadi negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum secara adil dan berkeadilan. Keadilan ini bersifat lintas agama, lintas etnis, lintas budaya, karena bersifat universal. Al-Qur’an menegaskan, “sesungguhnya Allah memerintah kamu berbuat adil dan berbuat baik”.
       Semoga kita mampu memulai dari diri kita, berbuat adil dan berbuat baik kepada siapapun. Kita doakan semua para pemimpin kita, baik di legislatif, eksekutif, dan yudikatif, dan seluruh pejabat di negara kita yang seharusnya sangat hebat, dapat hijrah atau move on, dari yang belum adil menjadi lebih adil. Dari masih bermain-main dalam soal keadilan, bisa menjadi lebih bersungguh-sungguh membangun hukum dan budaya hukum yang adil. Insyaa Allah jika bisa mengawali dari diri kita masing-masing dengan adil, kita akan mendapati hidup kita lebih berkah dan diridlai Allah. Insyaa Allah dengan adil, kita dapat berharap terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
       Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

13 KEMULIAAN ORANG HAJI DARI SAYYID AHMAD AL-MALIKY

Hari Ahad, 1 Dzul Hijjah 1439 H adalah hari keberuntungan buat saya dan sebagian jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah yang bersilaturrahim ke pesantren (ribath) Dr. Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin ‘Alawy  al-Hasany al-Maliky. Di pesantren yang mayoritas santrinya berasal dari Indonesia dan berafiliasi ke madzhab Maliky, memang sudah sangat dikenal oleh pimpinan pesantren di Indonesia. Saya berkesempatan silaturrahim ke beliau, dijemput alumnus al-Azhar Mukhlish Syafiq, dan diantar oleh KH Labib yang juga mudir pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes, yang merupakan alumni pesantren Dr. Sayyid Ahmad tersebut, sehingga saya dapat bicara dan sempat digandeng sebentar oleh Sayyid Ahmad, sembari memperkenalkan diri, dan alhamdulillah diberi kesempatan untuk ikut duduk di barisan depan di sebelah Sayyid Ahmad mengajarkan kitab hadits Lawaqih al-Anwar al-Muhammadiyah  dan Kitab Lathaif al-Ma’arif tentang tashawuf. Beberapa tahun yang lalu, di luar musim haji, saya pernah sowan silaturrahjm, ketika beliau masih berusia 30 tahunan, bersama dengan beberapa ulama dari Indonesia, Jawa Tengah dan Jawa Timur, ke Habib Umar al-Jilany di wilayah Mekah juga, setelah itu ke Habib Umar bin Salim pemimpin dan pengasuh pesantren  Dar al-Musthtafa Tarim Hadlramaut dan diundang oleh mahasiswa Indonesia di Dar al-Ahqaf Yaman. AlhamduliLlah setelah pengajian saya mendapatkan hadiah beberapa kita karangan Sayyid Muhammad bin ‘Alawy di antaranya: 1. Al-Hajj : Fadlail wa Ahkam, 2. Muhammad saw : Al-Insan al-Kamil, 3. Mafahim Yajib an Tushahhah, 4. Al-Qawa’id al-Asasiyah fi ‘Ulum al-Qur’an, 5. Al-Qawa’id al-Asasiyah fi Ushul al-Fiqh, 6. Tarikh al-Hawadits wa al-Ahwal al-Nabawiyah, 7. Haula Dzikraa al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawy, dan 8. Kasyfu al-Ghummah fi Ishthina’ al-Ma’ruf wa Rahmati al-Ummah.  Sayyid Ahmad kabarnya belum lama mendapatkan gelar doktor dalam ilmu tafsir dari Universitas al-Azhar Mesir dengan predikat Mumtaz Jiddan atau summa cumlaude. Tampaknya memang kharisma dan pengaruh Sayyid Ahmad ini mewarisi ayahnya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Hasany al-Maliky ini yang sangat dikagumi masyarakat dan jamaah haji Indonesia. Setelah selesai pengajian, dilanjutkan dengan shalat isya’ berjamaah. Setelah selesai shalat Jamaah, semua jamaah dipindahkan ke halaman pondok dengan gelaran karpet untuk menimmati makan malam model Arab, dengan nampan besar berisi nasi menu Arab. Jamaah haji Indonesia  yang hadir sangat banyak, memadati ruangan pengajian yang cukup besar. Sampai shaf yang paling depan pun diminta maju ke depan. Pengajian yang dilaksanakan setelah shalat Maghrib, diawali dengan membaca Al-Qur’an surat Yasin dan al-Mulk. Pengajjan dilaksanakan selama tujuh hari dari tanggal 1-7 Dzulhijjah 1439. Merujuk kitab al-Hajj : Fadlail wa Ahkam, ada tiga belas keutamaan dan kemuliaan haji, oleh karena itu para jamaah haji perlu memahaminya agar ibadah hajinya berhasil dan mendapatkan haji mabrur. Pertama, sesungguhnya ibadah haji itu untuk menghancurkan dosa-dosa sebelumnya. Sahabat ‘Amr bin al-Ash ra, yang ingin seluruh dosanya diampuni dengan syarat. Rasulullah saw bersabda: “Ingat, kamu tahu bahwa agama Islam merusak apa yang sebelumnya, hijrah untuk merusak apa yang sebelumnya, dan ibadah haji merusak dosa sebelumnya” (Muslim). Untuk memahmai hadits ini, tentu membutuhkan pemahaman yang cerdas dan bijak. Kedua, orang yang nelaksanakan ibadah haji adalah pejuang (mujahid). Riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda : “Jihad besar, kecil, dan perempuan: haji dan umrah” (dikeluarkan al-Nasai). Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw berkata, “Sungguh aku ingin berjihad fi sabiliLlah”. Rasulullah saw bersabda: “Ingat aku tunjukkan atas jihad yang tidak membutuhkan kekuasaan di dalamnya”. Ia berkata: “Ingat”. Rasulullah saw bersabda : “Haji di Baitullah”. Ketiga, orang yang berhaji adalah delegasi (wafdu) Allah. Rasulullah saw bersabda: “Delegasi Allah itu ada tiga, orang yang berperang (al-ghazi), orang yang berhaji, dan orang yang umrah”. (Riwayat al-Nasai dan Ibn Hibban). Dalam riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda : “Jamaah Haji dan Umrah adalah delegasi Allah, apabila mereka meminta diberi, apabila berdoa dikabulkan, dan apabila berinfaq diganti apa yang mereka infaqkan” (ditakhrij Tamam al-Razi). Keempat, orang yang haji diijabahi doanya. Riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah saw : “Lima doa yang tidak ditolak; doa orang haji hingga keluar, doa orang yang perang hingga pulang, doa orang yang teraniaya hingga ditolong, doa orang yang sakit, doa saudara pada saudaranya secara ghaib. Dan yang paling cepat dari doa-doa tersebut diijabahi,  adalah doa pada saudaranya secara ghaib” (Hadits shahih dari Said bin Jubair). Kelima, orang yang haji infaqnya di jalan Allah. Riwayat dari Buraidah ra, Rasulullah saw bersabda : “Nafkah dalam haji seperti infaq fi sabiliLlah. Dirham dilipatgandakan 700 kali lipat”. (Ditakhrij Abu Syaibah dan Ahmad). Keenam, orang yang haji dirhamnya dilipatgandakan 40 juta. Riwayat dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda : “Apabila orang yang haji keluar dari rumahnya, maka ia dalam penjagaan Allah, apabila ia mati sebelum melaksanakan haji, pahalanya dijamin Allah, apabila ia tinggal sampai selesai haji, diampuni dosa yang lalu dan yang akhir, infaqnya satu dirham dipasankan dengan empat puluh juta, dibanding lainnya” (lihat al-Qira li Qashid Umm al-Qura). Ketujuh, orang yang melaksanakan ibadah haji, nafkahnya diganti (lihat riwayat Tamam al-Razi), Kedelapan, orang yang melaksanakan haji, ditolong (oleh Allah), sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Ada empat hal, yang Allah mewajibkan menolongnya, orang yang perang, orang yang menikah, orang yang memerdekakan budak, dan orang yang haji”. Kesembilan, orang yang haji itu adalah penolong (syafi’). Riwayat dari Abu Musa al-Asyary ra menganggap hadits marfu’ sabda Rasulullah saw : “Orang yang haji menolong (yasyfa’u) empatratus dari keluarga rumahnya” (ditakhrij Abdu r-Razzaq). …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *