Home / KOLOM DIREKTUR / PELAJARAN BERHARGA DARI ‘ASYURA

PELAJARAN BERHARGA DARI ‘ASYURA

Assalamualaikum wrwb.

AlhamduliLlah wa sysyukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Mari di tanggal 10 Muharram 1439 H ini kita tingkatkan syukur kita kepada Allah. Hanya karena anugrah dan kasih sayang-Nya, kita sehat afiat, dan dapat melaksanakan aktifitas kita di akhir pekan ini dengan nyaman. Shalawat dan salam mari kita wiridkan dan lantunkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut yang setia dan komitmen meneladani beliau.

Saudaraku, mari kita tetap saling mengingatkan untuk menata niat kita mumpung masih di bulan Muharram tahun 1439 H. Karena niat kita akan sangat menentukan dan mewarnai jalan dan masa depan kita. Sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah saw:

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب  رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجر إليه (رواه البخاري).

Riwayat dari Amir al-Mu’minin ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat, dan sesungguhnya setiap orang tergantung apa yang diniatkan. Maka batang siapa hijrahnya menuju (keridlaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk urusan dunia yang diinginkannya, atau perempuan yang akan dinikahknya, maka hijrahnya adalah apa yang menjadi niat hijrahnya” (Riwayat al-Bukhari).

Rasulullah saw menganjurkan puasa di hari ‘Asyura ini, karena keutamaan di dalamnya. Puasa ‘Asyura, merupakan puasa yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل. رواه مسلم وأحمد وغيرهما.

Rasulullah saw bersabda: “Paling utamanya puasa setelah bulan Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, Muharram, dan paling utamanya shalat setelah shalat fardlu adalah shalat malam (qiyamullail)” (Riwayat Muslim, Ahmad, dan selain keduanya).

 

Pahalanya, kata Rasulullah saw dapat menghapus dosa selama satu tahun. Sebagaimana Rasulullah bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu” (Riwayat Muslim, 1162).

Menurut penjelasan Imam an-Nawawi, yang dimaksud hadits tersebut di atas, adalah: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar” (An-Nawawy, Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 6/279). Rasulullah saw pun sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari ‘Asyura’. Ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas yang mengatakan::

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ  يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَان

 

“Aku tidak pernah melihat Nabi saw benar-benar memperhatikan puasa satu hari yang melebihi keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan bulan ini, yakni puasa bulan Ramadlan” (Al-Bukhari:1192).

Menurut Zakky Mubarak (www.islampos.com), pada hari ke sepuluh Muharram atau hari ‘Asyura banyak peristiwa bersejarah yang penting yang terjadi di hari itu pada masa yang lalu. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Nabi Adam ‘as. yang pernah melakukan kesalahan dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya diterima  taubatnya oleh Allah SWT. Dalam taubat yang dilakukan oleh Nabi Adam as, doa yang hampir tiap hari kita baca adalah:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ الاعراف ٢٣

Mereka berdua berkata (memohon kepada Allah): “Wahai Tuhan kami, kami telah berbuat aniaya (dhalim) pada diri kami, dan apabila Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, sungguh kami berada dalam golongan orang-orang yang merugi” (QS. Al-A’raf: 23).

  1. Kapal Nabi Nuh as berhasil berlabuh di Gunung Judi dengan selamat, setelah terjadi banjir bandang besar dan nenghanyutkan Kan’an putra Nabi Nuh as. Di mana sebenarnya tempat berlabuh kapal Nabi Nuh tersebut? Ada yang menyebut gunung Judi seperti Al-Qur’an, ada yang mengatakan di gunung Ararat (Injil). Namun setelah ditelusuri sejarahnya, nama Judi dan Ararat adalah nama untuk gunung yang sama, yakni tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh as.

Pada laman viva.co.id, merilis, bahwa tahun 2010, kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam “Noah’s Ark Ministries International” mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut. Mereka meyakini telah menemukan sisa-sisa badan kapal Nabi Nuh as berada di ketinggian 4.000 m  di Gunung Ararat, ada yang bilang Gunung Agri, di wilayah Turki Timur. Saat saya ke Turki tahun 2013 yang lalu, teman-teman mahasiswa yang kuliah di Turki juga bilang bahwa gunung Judi terletak di Turki Timur.

Mereka mengaku berhasil masuk ke dalam kapal itu, mengambil foto untuk membuktikan klaim mereka. Dalam laporan penelitian mereka, specimen yang mereka ambil memiliki usia karbon 4.800 tahun, dan cocok dengan apa yang digambarkan dalam sejarah. “Kami belum yakin 100 persen bahwa ini benar perahu Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 persen,” kata salah satu anggota tim yang bertugas membuat film dokumenter, Yeung Wing, seperti dimuat laman berita Turki, National Turk, 27 April 2010 (siloka.com).

  1. Nabi Ibrahim as diselamatkan oleh Allah dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. Kita menyebutnya, ini adalah bagian dari mukjizat Nabi Ibrahim. Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ. قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ. الانبياء ٦٨-٦٩

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantukah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: “Hai api menjadi dingin,ahm dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’: 68-69).

  1. Nabi Yusuf ‘as dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.
  2. Nabi Yunus as selamat, keluar dari perut ikan hiu.
  3. Nabi Ayyub as disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.
  4. Nabi Musa as dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Saudaraku, masih banyak pelajaran yang sangat berharga, yang direkam oleh sejarah yang terjadi pada bulan Muharram.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari hari ‘Asyura’, selamat yang berpuasa, semoga dosa selama setahun diampuni oleh Allah. Bagi yang belum berpuasa, yang terpenting, mari kita berhijrah atau move on dari yang belum rajin menjadi lebih rajin belajar, dari yang masih belum selesai studinya, segera selesai. Dari yang belum menikah bagi yang sudah mampu dan usia 20 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki, segeralah menikah agar dapat memulai dan membangun bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Semoga di tahun 1439 H, amal shalih kita meningkat, dan manfaat yang kita bisa berikan kepada masyarakat makkn besar. Karena sejatinya sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi orang lain.

Allah a’lam bi sh-Shawab.

Wassalamualaikum wrwb.

Swiss-Bellin, Surakarta, 30/9/2017.

 

Check Also

13 KEMULIAAN ORANG HAJI DARI SAYYID AHMAD AL-MALIKY

Hari Ahad, 1 Dzul Hijjah 1439 H adalah hari keberuntungan buat saya dan sebagian jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah yang bersilaturrahim ke pesantren (ribath) Dr. Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin ‘Alawy  al-Hasany al-Maliky. Di pesantren yang mayoritas santrinya berasal dari Indonesia dan berafiliasi ke madzhab Maliky, memang sudah sangat dikenal oleh pimpinan pesantren di Indonesia. Saya berkesempatan silaturrahim ke beliau, dijemput alumnus al-Azhar Mukhlish Syafiq, dan diantar oleh KH Labib yang juga mudir pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes, yang merupakan alumni pesantren Dr. Sayyid Ahmad tersebut, sehingga saya dapat bicara dan sempat digandeng sebentar oleh Sayyid Ahmad, sembari memperkenalkan diri, dan alhamdulillah diberi kesempatan untuk ikut duduk di barisan depan di sebelah Sayyid Ahmad mengajarkan kitab hadits Lawaqih al-Anwar al-Muhammadiyah  dan Kitab Lathaif al-Ma’arif tentang tashawuf. Beberapa tahun yang lalu, di luar musim haji, saya pernah sowan silaturrahjm, ketika beliau masih berusia 30 tahunan, bersama dengan beberapa ulama dari Indonesia, Jawa Tengah dan Jawa Timur, ke Habib Umar al-Jilany di wilayah Mekah juga, setelah itu ke Habib Umar bin Salim pemimpin dan pengasuh pesantren  Dar al-Musthtafa Tarim Hadlramaut dan diundang oleh mahasiswa Indonesia di Dar al-Ahqaf Yaman. AlhamduliLlah setelah pengajian saya mendapatkan hadiah beberapa kita karangan Sayyid Muhammad bin ‘Alawy di antaranya: 1. Al-Hajj : Fadlail wa Ahkam, 2. Muhammad saw : Al-Insan al-Kamil, 3. Mafahim Yajib an Tushahhah, 4. Al-Qawa’id al-Asasiyah fi ‘Ulum al-Qur’an, 5. Al-Qawa’id al-Asasiyah fi Ushul al-Fiqh, 6. Tarikh al-Hawadits wa al-Ahwal al-Nabawiyah, 7. Haula Dzikraa al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawy, dan 8. Kasyfu al-Ghummah fi Ishthina’ al-Ma’ruf wa Rahmati al-Ummah.  Sayyid Ahmad kabarnya belum lama mendapatkan gelar doktor dalam ilmu tafsir dari Universitas al-Azhar Mesir dengan predikat Mumtaz Jiddan atau summa cumlaude. Tampaknya memang kharisma dan pengaruh Sayyid Ahmad ini mewarisi ayahnya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Hasany al-Maliky ini yang sangat dikagumi masyarakat dan jamaah haji Indonesia. Setelah selesai pengajian, dilanjutkan dengan shalat isya’ berjamaah. Setelah selesai shalat Jamaah, semua jamaah dipindahkan ke halaman pondok dengan gelaran karpet untuk menimmati makan malam model Arab, dengan nampan besar berisi nasi menu Arab. Jamaah haji Indonesia  yang hadir sangat banyak, memadati ruangan pengajian yang cukup besar. Sampai shaf yang paling depan pun diminta maju ke depan. Pengajian yang dilaksanakan setelah shalat Maghrib, diawali dengan membaca Al-Qur’an surat Yasin dan al-Mulk. Pengajjan dilaksanakan selama tujuh hari dari tanggal 1-7 Dzulhijjah 1439. Merujuk kitab al-Hajj : Fadlail wa Ahkam, ada tiga belas keutamaan dan kemuliaan haji, oleh karena itu para jamaah haji perlu memahaminya agar ibadah hajinya berhasil dan mendapatkan haji mabrur. Pertama, sesungguhnya ibadah haji itu untuk menghancurkan dosa-dosa sebelumnya. Sahabat ‘Amr bin al-Ash ra, yang ingin seluruh dosanya diampuni dengan syarat. Rasulullah saw bersabda: “Ingat, kamu tahu bahwa agama Islam merusak apa yang sebelumnya, hijrah untuk merusak apa yang sebelumnya, dan ibadah haji merusak dosa sebelumnya” (Muslim). Untuk memahmai hadits ini, tentu membutuhkan pemahaman yang cerdas dan bijak. Kedua, orang yang nelaksanakan ibadah haji adalah pejuang (mujahid). Riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda : “Jihad besar, kecil, dan perempuan: haji dan umrah” (dikeluarkan al-Nasai). Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw berkata, “Sungguh aku ingin berjihad fi sabiliLlah”. Rasulullah saw bersabda: “Ingat aku tunjukkan atas jihad yang tidak membutuhkan kekuasaan di dalamnya”. Ia berkata: “Ingat”. Rasulullah saw bersabda : “Haji di Baitullah”. Ketiga, orang yang berhaji adalah delegasi (wafdu) Allah. Rasulullah saw bersabda: “Delegasi Allah itu ada tiga, orang yang berperang (al-ghazi), orang yang berhaji, dan orang yang umrah”. (Riwayat al-Nasai dan Ibn Hibban). Dalam riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda : “Jamaah Haji dan Umrah adalah delegasi Allah, apabila mereka meminta diberi, apabila berdoa dikabulkan, dan apabila berinfaq diganti apa yang mereka infaqkan” (ditakhrij Tamam al-Razi). Keempat, orang yang haji diijabahi doanya. Riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah saw : “Lima doa yang tidak ditolak; doa orang haji hingga keluar, doa orang yang perang hingga pulang, doa orang yang teraniaya hingga ditolong, doa orang yang sakit, doa saudara pada saudaranya secara ghaib. Dan yang paling cepat dari doa-doa tersebut diijabahi,  adalah doa pada saudaranya secara ghaib” (Hadits shahih dari Said bin Jubair). Kelima, orang yang haji infaqnya di jalan Allah. Riwayat dari Buraidah ra, Rasulullah saw bersabda : “Nafkah dalam haji seperti infaq fi sabiliLlah. Dirham dilipatgandakan 700 kali lipat”. (Ditakhrij Abu Syaibah dan Ahmad). Keenam, orang yang haji dirhamnya dilipatgandakan 40 juta. Riwayat dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda : “Apabila orang yang haji keluar dari rumahnya, maka ia dalam penjagaan Allah, apabila ia mati sebelum melaksanakan haji, pahalanya dijamin Allah, apabila ia tinggal sampai selesai haji, diampuni dosa yang lalu dan yang akhir, infaqnya satu dirham dipasankan dengan empat puluh juta, dibanding lainnya” (lihat al-Qira li Qashid Umm al-Qura). Ketujuh, orang yang melaksanakan ibadah haji, nafkahnya diganti (lihat riwayat Tamam al-Razi), Kedelapan, orang yang melaksanakan haji, ditolong (oleh Allah), sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Ada empat hal, yang Allah mewajibkan menolongnya, orang yang perang, orang yang menikah, orang yang memerdekakan budak, dan orang yang haji”. Kesembilan, orang yang haji itu adalah penolong (syafi’). Riwayat dari Abu Musa al-Asyary ra menganggap hadits marfu’ sabda Rasulullah saw : “Orang yang haji menolong (yasyfa’u) empatratus dari keluarga rumahnya” (ditakhrij Abdu r-Razzaq). …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *