Home / BERANDA / PERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH YANG TERBAIK

PERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH YANG TERBAIK

Assalamualaikum wrwb.
      Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri secara sungguh-sungguh, hanya karena anugrah dan karunia-Nya, kita sehat afiat, menghirup oksigen gratis, dan dapat memulai aktifitas belajar dan kerja hari ini. Jangan lupa niatkan ibadah, dan berprestasi, supaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Niscaya kita adalah orang-orang yang beruntung. Shalawat dan salam mari kita terus senandungkan, sebagai bukti kita cinta kepada Baginda Rasulullah saw, keluarga, dan sahabat beliau. Semoga syafaat beliau kelak di akhirat memayungi kita, dan semua urusan kita di dunia dimudahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
      Saudaraku, manusia sebagai hamba diciptakan oleh Allah untuk hidup di muka bumi ini, karena tujuan yang sangat mulia, yakni untuk mengabdikan diri, menghamba, dan menyembah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat: 56). Bentuk pengabdian kita kepada Allah, yang bersifat vertikal ritual, berupa ibadah mahdlah (ibadah murni kepada Allah) sudah diatur dan dipandu tata cara (kaifiyat)-nya oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Untuk ibadah sosial horizontalnya, secara umum diberi contoh dan teladan yang baik oleh Rasulullah saw. Diawali dari menata hati dan fikiran untuk senantiasa pandai bersyukur kepada Allah dan kepada orang tua kita. Hamba yang bersyukur akan selalu berusaha rendah hati (tawadlu’), menyadari dan mengetahui keberadaan dirinya, yang berasal dari air hina, saripati tanah. Karena itu ia akan selalu menempatkan Allah sebagai tempat bergantung, memohon dalam doa, agar persembahan dan ibadahnya diterima oleh Allah.
        Untuk itu, manusia sangat-sangat dimuliakan oleh Allah SWT, yang karena itu pula, kita sebagai manusia berkewajiban memuliakan manusia yang lain, dan juga kepada makhluk yang lain. Allah SWT menegaskan:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا. الاسراء ٧٠
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra’: 70).
      Untuk itu juga, Allah menugasi kita manusia menjalankan tugas kekhalifahan (wakil)-Nya di muka bumi ini (Al-Baqarah:30). Penugasan ini sempat diprotes oleh para malaikat, yang menyebut, bahwa manusia itu menyukai pertumpahan darah dan berbuat kerusakan. Tugas mulia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, adalah:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ.  ص ٢٦
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (QS. Shad: 26).
       Saudaraku, sungguh tidak ringan menjalankan amanat dan tugas mulia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Karena itu, modal dasar iman dan taqwa, dan kesungguhan untuk berprestasi di hadapan Allah sangat dibutuhkan. Dengan basis iman dan taqwa ini, dimaksudkan kita tidak mudah terhasut dan terjebak mengikuti rongrongan dan jebakan hawa nafsu kita, yang karena itu, memerangi hawa nafsu kita, menurut Rasulullah saw, adalah termasuk perang besar (jihad akbar).
       Kegagalan menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi, selain akan merusak diri kita akibat rongrongan nafsu kita, juga berpotensi akan merusak lingkungan kita. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita untuk selalu waspada. QS. Al-A’raf: 179 menyatakan:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ. الاعراف ١٧٩
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf:179).
       Saudaraku, masih berkaitan dengan soal persembahan kita kepada Allah, seperti yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim as agar “menyembelih” putra beliau yang sangat dicintai, Nabi Ismail as. Adalah merupakan ujian yang sangat besar. Akan tetapi meskipun melalui proses dan pengalaman mimpi tiga malam berturut-turut, tarwiyah, arafah, dan hari nahr, akhirnya dengan semangat ketulusan dan keikhlasan, sebagai wujud iman dan taqwa, Nabi Ibrahim as pun meminta pendapat pada putra beliau Nabi Ismail as. Nabi Ismail as pun siap dengan penuh kepasrahan dan ketaqwaan karena itu adalah perintah Allah, Dzat Yang Maha Pemberi, maka bersiaplah “penyembelihan” tersebut (QS. Ash-Shaffat:100-109). Allah SWT mendapatkan Nabi Ibrahim as sebagai kekasih-Nya telah menunjukkan persembahan yang terbaik dengan siap mengorbankan putra — atau keturunan yang sudah ditunggu-tunggu dan sangat dicintainya — untuk pengabdian beliau kepada Allah, maka Allah menghadirkan tebusan penggantinya dengan sembelihan yang besar.
       Saudaraku, pelajaran berharga tersebut, memberikan keteladanan pada kita sebagai anak cucu Nabi Ibrahim as, agar kita dalam mengabdi kepada Allah, melakukan amal sosial dan kebendaan, untuk menolong dan membantu orang lain, musti kita ambil dari harta yang terbaik. Karena di situlah sesunggunnya makna keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Rabbu l-‘Arsy. Dan Allah kemudian memberi rambu-rambu, agar jangan salah arah untuk kepentingan riya, pamer, dan supaya diperhatikan oleh orang lain, maka bukan darah dan daging unta atau hewan kurban yang sampai kepada Allah, akan tetapi ketaqwaan itulah yang sampai dan dihitung oleh Allah (QS. Al-Hajj:37).
      Allah akbar wa liLlahi l-hamd. Maha Besar Allah dengan segala puji dan kebesaran-Nya. Selamat berkurban, persiapkanlah kambing, sapi, atau kerbau yang terbaik. Sehat, tidak cacat, dan tidak terlalu tua atau terlalu muda, agar lezat dinikmati bersama orang-orang yang membutuhkannya.
      Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

 

Check Also

INDONESIA: “IRISAN SURGA” DI BUMI NUSANTARA

Assalamualaikum wrwb. Alhamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *