Home / KOLOM DIREKTUR / SYAWAL: JAGA KETAQWAAN DAN SEMBUHKAN PENYAKIT HATI (166)

SYAWAL: JAGA KETAQWAAN DAN SEMBUHKAN PENYAKIT HATI (166)

Oleh Ahmad Rofiq
Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah dan nikmat Allah yang sungguh tidak mampu kita menghitungnya (QS. Ibrahim:34 dan an-Nahl: 18).
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghnggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34).
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl: 18).
     Semoga dengan kita mensyukuri nikmat dan karunia Allah,  Allah akan menambah-nambah kenikmatan-Nya pada kita, dan kita dapat digolongkan dalam bagian sedikit hamba Allah yang senantiasa mensyukuri kasih sayang-Nya (QS. Saba: 13).
       Shalawat dan salam mari terus kita senandungkan, mengiringi Allah dan para Malaikat yang senantiasa bershalawat pada junjungan kita Nabi Muhammad, Rasulullah saw. (QS. Al-Ahzab:56). Semoga kasih sayang Allah, meluber pada keluarga beliau, para sahabat, dan para pengikut, dan kelak di akhirat kita diijinkan mendapatkan syafaat beliau.
       Saudaraku, kita sudah menapaki di bulan Syawal hari ke-5.  Ada yang memahami kata syawal berarti peningkatan. Kata syawal dari kata syalat an-naqah bi dzanabiha [Arab: شالت الناقةُ بذنَبِها], artinya onta betina menaikkan ekornya. (Lisan Al-Arab, 11/374). Bulan syawal adalah masa di mana onta betina tidak mau dikawini para pejantan. Ketika didekati pejantan, onta betina mengangkat ekornya. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah terhadap bulan syawal, dianggap bulan sial. Implikasinya, mereka menjadikan bulan syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Islam datang untuk meluruskan keyakinan yang tidak tepat tersebut. Rasulullah saw.  justru menikahi istri beliau di bulan syawal. Karena itu, bulan Syawal justru dijadikan momentum banyak saudara kita yang menjadikan sebagai momentum menikah bagi pasangan yang sudah merencanakannya. Semoga saja ini karena mereka meniru Rasulullah saw.
       Saudaraku, setelah kita berpuasa satu bulan di bukan Ramadlan, idealnya, grafik keumanan dan ketaqwaan kita sedang berada di deretan yang tinggi, karena itu tidak terlalu salah jika dimaknai sebagai bulan peningkatan atau membangun prestasi amal kita, baik amal ibadah mahdlah berupa ibadah vertikal, maupun ibadah sosial horizontal sebagai manifestasi keimanan kita. Ini dimaksudkan agar kota mampu menjaga, merawat, menyirami agar peningkatan ketaqwaan kita makin subur, berbunga, dan berbuah pada makin bertambah kesalehan individu dan kesalehan sosial kita. Namun demikian, sebagai manusia biasa, lumprah, yang belum mampu menjaga hati kota dengan istiqamah, kota jadi sering lupa.
       Beljm benap satu minggu, kita ditinggal bulan suci Ramadlan, hati kita sudah dihinggapi berbagai penyakit. Sifat-sifat kekanak-kanakan kita sudah “kambuh” lagi, mulai dari iri, hasud, buruk sangka atau suudhan kepada orang lain. Yang berharta sedikit lebjh dari saudaranya, menampakkan diri sebagai orang jumawa, merasa hebat, dan penampilan pun dengan wajah yang adigung. Yang merasa mendapat ilmu sedikit lebih, juga merasa seakan di dunia ini, hanya dirinya yang hebat. Yang sedang menyandang deretan jabatan, juga boleh jadi tidak menyadari, dalam ungkapan tulisan, status, dan pernyataannya, nampak kurang bersahabat, tidak friedly, dan terasa angkuh jika dibaca secara cermat oleh orang lain.
       Saudaraku yang dimuliakan Allah, hati dan fikiran yang sehat adalah hati yang senantiasa disinari oleh pelita dan cahaya iman dan ketaqwaan kepada Allah, sedangkan hati yang sakit adalah hati yang dihinggapi oleh sifat kemunafikan dalam hati. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ.   يُخَادِعُونَ اللهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ.   فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ.
“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah :8-10).
       Ada kegelisahan masif di kala Ramadlan, banyak saudara kita, apakah itu para artis, yang selama Ramadlan ordernya super sibuk, bahkan di hampir semua lini bisnis yang memerlukan tampilan untuk “menyejukkan dan memantik emosi positif” customer, maka dilakukan. Dan memang dalam perspektif marketing bisnis itu harus dilakukan. Lalau apa dan mana yang salah? Demikian juga banyak saudara kita yang boleh jadi “saking semangatnya berpuasa”, minta kepada para pedagang makanan tutup di siang hari bulan Ramadlan, karena merasa mendapat “privelege” sebagai “kandidat” muttaqin, lalu menggunakannya untuk melakukan “sweeping” atas warung-warung makan yang buka siang hari dengan terang-terangan.
       Saudaraku, tulisan ini boleh jadi juga akan difahami sebagai ungkapan “keangkuhan”. Insyaa Allah, ini hanyalah ungkapan “kegalauan” yang semoga melahirkan resonansi positif, bagi diri sendiri (yang semestinya cukup direnungi sendiri) akan tetapi dengan “memberanikan” menulis di media ini, setidaknya akan memantulkan sikap komitmen, dan semoga juga memancarkan manfaat bagi saudara-saudaraku yang berkenan membaca, menghayati, dan meresapinya dengan hati dan fikiran yang jernih. Kita sering tidak mampu “memerangi” diri sendiri, dan akan lebih efektif, jika “diperangi” melalui “nasehat bijak” orang lain. Agar tidak salah dan tidak terperangkap pada sifat dan sikap ananiyah atau egoisme diri sendiri, maka mari kita berasma-sama melakukan muhasabah atau introspeksi diri, untuk merawat, menjaga, dan menyirami ketaqwaan kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dengan memperbanyak amal sosial pada sesama. Kita buang jauh -jauh keangkuhan hati dan fikiran kita, karena memang pada hakikatnya, diri kita ini tidak ada apa-apanya.
       Kita tampak jadi “orang shaleh” karena aib kita ditutupi oleh Allah. Kita seolah tampak seperti orang pandai, karena “kebodohan kita” sedang diberi penutup oleh Allah. Kita tampak sebagai seorang dermawan, padahal sebenarnya banyak sifat kebakhilan dna kekikiran, disertai ketamakan, yang masih bertengger kokoh di fikiran kita.
      Semoga di bulan Syawal ini, kita dapat menjadi hamba Allah yang istiqamah untuk meningkatkan tabungan dan investasi akhirat kita, menjadi hamba Allah yang ingin terus bertaqwa kepada-Nya, demi menambah bekal hidup di kehidupan panjang di akhirat nanti. Semoga Allah menolong dan memberkahi kita semua. Amin.
       Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Kudus-Jepara, 29/6/2017.

Check Also

INDONESIA: “IRISAN SURGA” DI BUMI NUSANTARA

Assalamualaikum wrwb. Alhamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *