Home / BERANDA / KITA BUKA PINTU SURGA, KITA GEMBOK PINTU NERAKA

KITA BUKA PINTU SURGA, KITA GEMBOK PINTU NERAKA

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah dan kenikmatan yang Allah limpahkan pada kita. Dengan kita mensyukuri, Allah akan menambah kenikmatan-Nya kepada kita. Dan kita akan merasa bahagia manakala hati, perasaan, dan pikiran kita juga bisa merasakannya. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Rasulullah saw, keuarga, dan para sahabat. Semoga syafaat beliau akan melindungi kita di akhirat kelak.
       Atas karunia Allah juga kita sudah bisa menjalani puasa di hari ke-20, mulai periode sepuluh hari terakhir, yang oleh Rasulullah saw, disebut itqun min an-nar (pembebasan dari api neraka). Dalam bahasa sederhana, adalah periode kita buka pintu surga dan gembok pintu neraka. Karena itu kita dianjurkan berdoa memohon kepada Allah sebagai berikut:
بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّيْ فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maya Penyayang, Ya Allah limpahkan kasih sayang-Mu pada junjunhan kami Nabi Muhammad, dan keluarga junjungan kami Nabi. Muhammad, Ya Allah, bukakanlah bagi kami di bulan ini pintu-pintu surga dan tutupkan atau kuncika bagi kami pintu-pintu neraka. Berikanlah kemampuan pada kami untuk menelaah Al qur’an di bulan ini. Wahai Dzat Yang menurunkan ketenangan  hati-hati orang-orang mukmin”. Amin.
       Saudaraku, kita sudah melewati etape pertama, etape dilimpahkannya kasih sayang Allah, etape kedua, adalah pengamlunan Allah dilimpahkan kepada kita hamba-hamba-Nya yang dengan khusyu’ dan tawadlu’ atau rendah hati memohon ampunan-Nya, maka kita memulai etape kita idealnya menikmati kebahagiaan hembusan atau irisan surga yang berkimpah kenikmatan itu, untuk kita rasakan di dalam kehidupan kita di dunia. Bisikan dan hasitan syaithan dan iblis, telah kita buang dan singkirkan jauh-jauh, biar mereka sang penggoda itu di salam neraka yang kita gembok bersama-sama, dan saatnya kita menikmati kenikmatan surgawi di dunia ini. Kita singkirkan rasa iri, dengki, hasud, dendam, fitnah, ghibah, tajassus, memanggil orang kain dengan panggilan tidak baik, suudhan, dan lain sebagainya, agar hidup kita terasa tenteram dan nyaman.
       Kita buang sikap hidup materialis, hedonis, bakhil, kikir, dan diperbudak oleh harta, karena kita salah memposisikan kedudukan harta menjadi tujuan. Mari kita gantikan dengan sikap zuhud, ridla, qanaah, dermawan, dan kota manfaatkan materi sebagai alat atau instrumen untuk bekal ibadah kita, agar dapat membahagiakan diri kita, keluarga, guna mendapatkan kenyamanan, ketenteraman, dan membangun kasih sayang, bersama dengan pancaran dan anugrah kebahagiaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah, di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kelunyaan Allah lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Fath:4).
       Kita semua merindukan dan memohon kepada Allah agar hidup kita diridlai Allah dan diijinkan untuk menjadi penghuni surga-Nya. Kita memang belum bisa seperti Al-Ghazaly atau Rabiah al-Adawiyah, yang ruang hati dan fikirannya sudah dipenuhi dengan mahabbah atau cinta kepada Allah, sehingga tidak tersisa sedikitpun untuk mencintai yang lain-Nya. Akan tetapi karena kita sebagai hamba Allah, dianjurkan oleh Allah untuk bergegas untuk mendapatkan maghfirah atau ampunan dan surga-Nya, kiranya tidak salah kalau kita berdoa juga memohon diijinkan menjadi penghuni surga-Nya.
 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran:133).
       Allah menggambarkan menjadi ahli surga adalah kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa. Kita akan disambut dengan sambutan yang penuh kebahagiaan.
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ.  وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ.
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada atuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula), sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu. Maka masjkilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yangbtelah memenuhi janji-Nya, kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal” (QS. Az-Zumar:74-75).
       Saudaraku yang dirahmati Allah, nanti malam kita mengawali malam ganjil hingga sembilan hari terakhir. Semoga Allah menempatkan malam lailatul qadar di hari-hari ganjil sebagaimana banyak riwayat. Malam lailatul qadar asalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, atau setara dengan 83,3 tahun, di mana usia kita belum tentu mencapainya. Malaikat pembawa rahmat diutus oleh Allah turun ke dunia, untuk menyapa dan mengirim berbagai kenikmatan, anugrah, dan kasih sayang kebahagiaan dari Allah, pada hamba-hamba-Nya yang rajin, tekun, beribadah, beriktikaf, dan taqarrub mendekatkan diri kepada Allah.
       Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan kekuatan pada kita untuk ikut menjemput kenikmatan pada malam lailatul qadar, untuk merubah nasib dan kehidupan kita. Semoga kita juga diberi keikhlasan dan ketawadluan untuk meraihnya, dan hidup kita di dunia ini makin subur untuk menyemai benih kebahagiaan akhirat yang akan kita panen buahnya kelak di akhirat. Amin.
ان اريد الا الاصلاح ما استطعت وما توفيقي الا بالله حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wasaalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 15/6/2017

Check Also

It’s crucial to the balanced expansion and development of your respective individuality.

write the paper Article writing isn’t ever an effortless occupation. Composing an article is actually …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *