Home / BERANDA / PUASA, PENUTUP AIB, DAN SIKAP QANAAH

PUASA, PENUTUP AIB, DAN SIKAP QANAAH

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah, yang telah dilimpahkan pada kita semua. Hanya karena anugrah-Nya, kita sehat afiat hingga puasa di hari ke-12 ini. Semoga kita makin bersih atau kalaupun belum bersih, Allah menutup aib dan kekurangan kita, dan kita makin qana’ah (menerima pemberian Allah) dengan ikhlas dan ridha.
       Shalawat dan salam mari kita wiridkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga kasih sayang dan syafaat Rasulullah saw itu meluber pada kita, juga nanti di akhirat.
       Saudaraku, di puasa hari ke-12 kita dianjurkan untuk berdoa memohon kepada Allah, agar kita menjadi hamba yang bersih dari dosa, atau setidaknya mohon ditutupi segala macam aib kita, yang sering berpura-pura baik, atau bersandiwara dan tampil baik padahal sesungguhnya banyak sekali kesalahan dan aib kita. Sekiranya Allah tidak menutupi aib kita, susah membayangkannya, karena yang tampak adalah aib dan keburukan kita.
بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد اَللَّهُمَّ زَيِّنِّيْ فِيْهِ بِالسِّتْرِ وَ الْعَفَافِ وَ اسْتُرْنِيْ فِيْهِ بِلِبَاسِ الْقُنُوْعِ وَ الْكَفَافِ وَ احْمِلْنِيْ فِيْهِ عَلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَ آمِنِّيْ فِيْهِ مِنْ كُلِّ مَا أَخَافُ بِعِصْمَتِكَ يَا عِصْمَةَ الْخَائِفِيْنَ
“Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah limpahkan kasih sayang pada junjungan kami Nabi Muhammad,  dan keluarga  junjungan kami Nabi Muhammad, Ya Allah, mohon hiasilah aku di dalam (bulan Ramadlan) ini dengan penutup aib dan kesucian. Tutupilah diriku di dalamnya dengan pakaian kecukupan dan kerelaan diri. Tuntunlah aku untuk senantiasa bersikap adil dan insaf (sadar). Selamatkanlah aku dari segala sesuatu yang aku takuti dengan Perlindungan-Mu, wahai tempat bernaung bagi mereka yang ketakutan”.
       Saudaraku, manusia adalah tempatnya khilaf dan lupa. Dalam ungkapan bahasa Arab, سمي الانسان لكثرة نسيانه  artinya “disebut manusia karena banyak lupanya”. Bahkan Rasulullah saw menegaskan كل بني أدم خطاءون وخير الخطاءين التوابون  artinya “setiap anak cucu Nabi Adam adalah orang-orang yang sering berbuat kekeliruan, dan sebaik-baik orang-orang yang berbuat kekeliruan adalah orang yang bertaubat”.
      Seandainya aib kita dibuka oleh Allah ‘Azza wa Jalla, betapa diri kita terlalu banyak, bahkan mungkin tinggi menjulang menutupi keberadaan diri kita. Nyaris tanpa terlewatkan, dari waktu ke waktu kita selalu berbuat kesalahan. Karena pada hakikatnya, ketika kita berbuat kesalahan atau aniaya kepada orang lain, adalah medhalimi diri kita sendiri. Dalam urusan materi, kita ini apabila dalam kekurangan selalu mengeluh, dan ketika menerima keuntungan atau rizqi, sering lupa kepada Allah Dzat Yang Maha Memberi rizqi, bahkan terima kasih pun lupa.
       Saudaraku, selain kita disarankan untuk menjadi hamba yang shalih, qana’ah, kita juga sebaiknya bisa berbuat adil dan sadar. Karena titipan lebih dari Allah pada kita, apakah itu ilmu, jabatan, atau harta, apabila kita tidak memiliki prinsip, niat, usaha dan komitmen yang kuat untuk bisa adil dan insaf, maka dengan mudah terjebak ke dalam prilaku yang dhalim dan tidak adil. Kalau sudah ditimpa kedhaliman, maka kegelapan mata hati akan mendominasi fikiran dan prilaku kita.
     Semoga ibadah puasa kita hingga hari ke-12 ini, mampu menjadikan diri kita terbarukan dalam pola fikir dan pola sikap kita, sehingga  dengan demikian kita bisa menirukan dan mewujudkan kasih sayang Allah dengan cara menyayangi dan menyantuni hamba-hamba Allah yang sangat membutuhkannya.
      Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Semarang, 7/6/2017.

Check Also

INDONESIA: “IRISAN SURGA” DI BUMI NUSANTARA

Assalamualaikum wrwb. Alhamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *