Home / KOLOM DIREKTUR / MERAWAT SIKAP TAWAKKAL DAN RENDAH HATI

MERAWAT SIKAP TAWAKKAL DAN RENDAH HATI

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku, mari kita syukuri anugrah Allah, hari ini kita sudah berada di hari ke sepuluh bulan penuh berkah, semoga sepertiga awal Ramadlan makin meningkat rasa kasih sayang kita siapa saja yang ada di bumi ini. Rasulullah saw memerintahkan: ارحموا من في الارض يرحمكم من في السماء  artinya “sayangilah orang-orang yang ada di bumi ini, maka Yang di langit akan menyayangi kamu”. (Riwayat al-Bukhari).
Shalawat dan salam mengiringi shalawat Allah dan para Malaikat. Mari terus kita senandungkan pada Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikut setia beliau.
Semoga syafaat beliau akan memayungi kita di akhirat nanti.
       Kita perlu menyadari bahwa ibadah yang kita laksanakan setiap hari, tidak bisa menjadi jaminan kita masuk surga. Meskipun kita diciptakan di dunia ini, tujuannya hanya satu, yaitu beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sementara Allah memerintah pada kita untuk bergegas untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali ‘Imran: 133). Namun dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada amal saleh seorang dari kalian yang bisa menyebabkan masuk surga”. Para sahabat bertanya: “Dan engkau juga tidak bisa, Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Aku juga tidak bisa, kecuali bila Allah melimpahkan anugrah dan rahmat-Nya”.
       Dalam riwayat yang lain, Jabir berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Amal shaleh seseorang dari kalian tidak bisa menyebabkan masuk surga, dan tidak bisa menyebabkan terlempar ke neraka. Aku juga tidak bisa, kecuali dengan rahmat dari Allah”.
       Riwayat Abdurrahman bin ‘Auf mendapati hadist dari Aisyah r.a. istri Nabi saw berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Istiqamahlah kamu, bertaqarrublah kamu dan bergembiralah kamu, sesungguhnya tidak ada amal seorang pun yang bisa menyebabkan masuk surga”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga tidak bisa Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Aku pun tidak bisa, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya. Karena itu beramallah kalian, sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah yang langgeng meskipun sedikit”. (Riwayat al-Bukhari).
       Ilustrasi dan kutipan di atas menunjukkan agar kita dalam beribadah dapat menjalankannya dengan khusyu’ dan penuh tawakkal, tidak hanya sekedar berorientasi mendapatkan surga Allah. Rasulullah saw sudah menunjukkan dengan tegas, agar kita hanya menginginkan rahmat dan kasih sayang Allah. Di hari ke sepuluh di bulan Ramadlan ini, kita dianjurkan untuk berdoa memohon kepada Allah sebagai berikut:
بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل  سيدنا محمد
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِيْهِ مِنَ الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ، وَاجْعَلْنِي فِيْهِ مِنَ الْفَائِزِيْنَ لَدَيْكَ، وَاجْعَلْنِي فِيْهِ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ اِلَيْكَ، بِاِحْسَانِكَ يَا غَايَةَ الطَّالِبِيْنَ .
“Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ya Allah limpahkan kasih sayang-(Mu) pada junjungan kami Muhammad, dan keluarga junjungan kami Muhammad, Ya Allah, jadikan kami di dalam (bulan Ramadlan) ini golongan orang yang bertawakkal kepada-Mu, jadikan kami orang-orang yang beruntung di keharibaan-Mu, jadikan kami di dalamnya orang-orang yang dekat kepada-Mu dengan kebaikan-Mu, Wahai Tujuan orang-orang yang mencari (Keridlaan-Mu)”.
       Saudaraku, bertawakkal atau berpasrah diri, memang sederhana dan mudah diomongkan. Akan tetapi tidak mudah dijalankan, apalagi ditanamkan dalam sikap keseharian. Sikap tawakkal secara psikologis mempunyai makna dan fungsi yang sangat penting, yakni sebagai pengendali jiwa kita supaya tidak mengalami stress dan frustasi. Lebih dari itu, tawakkal juga menjadi sistem pengendali diri kita, jangan sampai tertanam sebijih dzarrahpun sifat dan sikap ujub (mengagumi diri sendiri) dan sum’ah (agar didengar dan diketahui orang lain). Karena sifat tersebut akan melahirkan sikap sombong, takabbur, dan angkuh yang menjadi bibit atau benih kesyirikan kepada Allah. Allah menggambarkan sifat Rasulullah saw :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali ‘Imran :159).
        Karena itu, orang yang beriman secara benar kepada Allah indikasinya adalah makin bertambah sikap tawakkalnya kepada Allah. Sikap tawakkal adalah kepasrahan total yang berarti menunjukkan sikap kerendah-hatian seorang hamba. Sebagai hamba keberadaannya sangat kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang dan anugrah Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الانفال ٢
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal:2).
      Syeikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandary mengingatkan dengan bahasa yang sangat halus: “Siapa yang merasa dirinya tawadlu’, berarti ia adalah orang yang takabbur. Sebab adanya anggapan diri tawadlu’ tidak akan muncul kecuali dari sikap tinggi hati. Maka, saat Anda menyandang keagungan (tinggi hati) itu pada diri, berarti Anda benar-benar orang yang sombong.”
        Karena itu, bergantunglah hanya kepada Allah semata. Amalan kita sunggguh sangat tidak ada artinya apa-apa. Mengapa, “Salah satu tanda bergantungnya seseorang pada amalnya adalah kurangnya raja’ (harapan pada rahmat Allah) tatkala ia mengalami kegagalan (dosa).” Demikianlah nasihat Ulama sufi kenamaan as-Sakandari.
 Setiap waktu kita dianjurkan untuk memohon agar semua kebutuhan hidup kita dicukupi oleh Allah, dengan senandung dzikir: حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير  artinya “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Allah sebaik-baik pelindung, dan Allah sebaik-baik Penolong”.
       Saudaraku, semoga kita dengan telah menjalani piasa Ramadlan sepuluh hari pertama, hati dan fikiran kita makin istiqamah dan makin bersikap tawakkal, dan terjauhkan dari sifat-sifat sombong, takabbur, dan congkak, tetapi makin tawadlu’ dan rendah hati, sebagai hamba Allah. Dengan demikian kita makin dapat menyayangi sesama dan makhluk Allah yang lainnya. Dan Yang di langit akan menyayangi kita.
      Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

SANTRI, KITAB KUNING, DAN ISLAM MODERAT

Assalamualaikum wrwb. Puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita mensyukuri anugrah dan karunia-Nya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *