Home / KOLOM DIREKTUR / PUASA DAN ISTIQAMAH DAWAM ADZ-DZIKR

PUASA DAN ISTIQAMAH DAWAM ADZ-DZIKR

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku yang disayangi Allah, mari kita syukuri anugrah Allah, karena sayang-Nya kita sehat afiat. Kita doakan saudara kita yang sedang sakit baik yang sedang dirawat di rmah sakit maupun yang di rumah rawat jalan, segera disembuhkan oleh Allah. Sakit memang bisa mengena siapa saja, karena sakit adalah bagian dari “ganjaran” Allah kepada manusia, karena itu adalah bagian dari kaaih sayang-Nya juga. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Rasulullah saw, keluarga dan sahabat beliau. Semoga syafaat beliau kelak memayungi kita di akhirat.
       Di hari yang ke tujuh ini, bagi orang yang beriman rasanya fisik kita sudah terlatih, karena itu kita diingatkan agar terus melanggengkan dzikir dan amalan-amalan yang bisa menyempurnakan ibadah puasa kita, seperti tadarus Al-Qur’an dan menghidupkan malam puasanya dengan shalat tarawih, qiyamullail, dan bertadabbur atas kebesaran Allah. Kita diingatkan dan dianjurkan untuk berdoa sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ فِيْهِ عَلَى صِيَامِهِ وَ قِيَامِهِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَ آثَامِهِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ بِتَوْفِيْقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّيْنَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berpuasa dan qiyamullailnya (shalat malam) serta jauhkan aku dari (perbuatan) kesia-siaan dan perbuatan dosa. Anugrahi (berilah rizqi) aku di dalamnya dengan dawam (langgeng)-nya ingat (berdzikir) pada-Mu dengan taufiq-Mu wahai Dzat yang memberikan petunjuk pada orang-orang yang tersesat”.
      Saudaraku, hari ke tujuh adalah bagian dari sepuluh hari pertama, yang merupakan bagian kasih sayang Allah. Akan tetapi karena kesibukan kita yang boleh jadi meningkat, bisa berdampak semangat untuk meningkatkan kualitas puasa kita dan amalan untuk menyempurnakan puasa, cenderung mengalami penurunan.
       Iman sebagaimana kata Abu al-Hasan al-Asy’ary, imamnya penganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bisa bertambah dan bisa menurun sejalan dengan frekuensi dan volume amal sosial kita yang baik atau yang shaleh. Karena musti kita sadari, amal sosial adalah bagian ibadah yang tidak kalah penting dari nilai ibadah ritual (mahdlah) kita kepada Allah. Karena amal sosial seperti menyediakan takjil pada orang yang puasa, memberikan zakat, infaq, dan sadaqah kepada saudara kita yang berkekurangan, adalah sama halnya menyayangi hamba dan ciptaan-Nya.
Rasulullah saw pun selalu mengingatkan, meskipun Anda mampunya memberikan hanya sebiji kurma, seteguk susu, atau bahkan air putih, itu akan menyempurnakan ibadah puasa kita. Kalau Allah menjanjikan kelipatan pahala hingga 70 kali lipat, itu artinya makin banyak kita menebar atau menyemai kebaikan, maka jaminannya adalah hidup kita makin bermakna, makkn bermanfaat, dan makin berkah. Dan itu artinya investasi kita menjadi manusia yang baik (خير الناس انفعهم للناس) semakin bertambah, karena hidup kita bermanfaat bagi orang lain.
       Mari kita hiasi kualitas keberagamaan kita dengan menjaga lisan kita – yang meskipun secara fisik bau tidak enak, karena tidak.makan dan minum dari fajar –  agar tetap wangi dan harum laksana wangi dan harumnya minyak misik (kasturi). Demikian juga kita jaga tangan “kekuasaan” kita dari tindakan atau perlakuan kita agar tidak menimbulkan sakit hati atau menyakitkan perasaan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kekuasaan kita.
       Di tengah kegalauan kita sebagai bagian dari Bangsa besar Indonesia yang kita cintai, rasanya kita perlu memiliki komitmen untuk melaksanakan perintah Allah, agar saling mengingatkan dalam menjalankan kebenqran dan kesabaran (QS. Al-‘Ashr:3). Juga termasuk kepada para pemimpin yang sudah sama-sama kita amanati, untuk menegakkan hukum secara adil. Janganlah sampai mereka yang benar justru dikuyo-kuyo bahkan dengan mencari-cari dalih dengan berbagai alibi, sementara yang bersalah cenderung dibela-bela dan dilindungi.
      Berlaku adil memang mudah diomongkan tetapi tidak mudah dilaksanakan. Kita semua mustinya sadar bahwa berlaku adil adalah pesan inti kemanusiaan yang lintas agama, lintas budaya, dan lintas etnis. Adil diposisikan sebagai instrumen untuk memuliakan sesama manusia, sesama ciptaan Allah Yang Membeei hidup dan kehidupan kita. Setiap perlakuan dhalim yang kita lalukan, pasti Allah akan membalasnya entah kapan itu akan terjadi. Berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa (QS. Al-Maidah:8). Karena itu kalau misalnya Anda menyimpan kebencian kepada seseorang atau suatu kaum, janganlah korbankan dan pertaruhkan amanat jabatan Anda untuk berbuat kedhaliman sekecil apapun. Karena “Tuhan tidak tidur” atau “Gusti Allah ora sare”. Semua prilaku kita, lebih pasti akan terekam dengan baik. Apalagi doanya orang yang teraniaya pasti dikabulkan oleh Allah (دعاء المظلوم مستجابة).
       Saudaraku, mari kita bersama-sama saling mengingatkan supaya ibadah puasa kita sempurna, kita berikhtiar agar hidup kita berkah, iman kita bertambah dan hidup istiqamah, termasuk dalam melanggengkan dzikir kita. Insya Allah hidup kita akan berlimpah keberuntunhan dan keberkahan. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan dalam QS. Fuşşilat:30,
ان الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملاءكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat:30).
       Saudaraku, semoga Allah senantiasa menolong kita, menjaga kita dalam keadaan sehat afiat, panjang umur, dan dapat menyempurnakan ibadah puasa kita, istiqamah untuk melanggengkan dzikir kepada-Nya, sehingga kita mampu merasakan lezat dan ketenteraman hati kita, sehingga dapat mencicipi kebahagiaan yang sejati. Surga memang kelak di akhirat, namun ketika kita mampu menangkap dan merasakan irisan surga dari Allah dalam hidup kita, kita akan hidup nyaman insyaa Allah.
Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *