Home / KOLOM DIREKTUR / PUASA MELATIH KEDERMAWANAN

PUASA MELATIH KEDERMAWANAN

Assalamualaikum wrwb.
      Saudaraku, tidak terasa kita sudah memasuki hari ketiga puasa di bulan Ramadlan ini. Mari kita syukuri anugrah Allah, kita sehat afiat, berpuasa, dan tetap beraktifitas sebagaimana biasa, bahkan lebih produktif, karena tidak disibukkan oleh urusan makan dan minum. Meskipun bau mulut kurang nyaman, tetapi secara hakiki, dihitung lebih wangi dari minyak kasturi (misik).
       Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga kita makin mencintai beliau, dan terus berkomitmen meneladani sunnah beliau, dan kelak di akhirat syafaat beliau akan melindungi kita.
       Saudaraku, para Ulama mengajarkan kepada kita, di hari ketiga, setelah kita merasakan nikmatnya puasa selama dua hari, kita setidaknya bisa menyadari bahwa harta itu bukan segala-galanya, meskipun segala sesuatu membutuhkan harta. Karena itulah dalam kajian pemikiran Hukum Islam (Ushul Fiqh), harta itu merupakan salah satu kebutuhan primer manusia, yang apabila sama sekali tidak terpenuhi, maka akan mendatangkan madlarat dan kerusakan bagi manusia. Akan tetapi harta hanyalah sebagai instrumen, alat, atau wasilah, agar hidup manusia berjalan normal dan wajar, dan dapat melaksanakan ibadah dengan baik, karena kebutuhan dasarnya terpenuhi.
        Doa yang dimohknkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla di hari Ketiga bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على  سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فِيْهِ الذِّهْنَ وَالتَّنْبِيْهَ، وَبَاعِدْنِي فِيْهِ مِنَ السَّفَاهَةِ وَالتَّمْوِيْهِ، وَاجْعَلْ لِي نَصِيْبًا مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُ فِيْهِ، بِجُوْدِكَ يَا اَجْوَدَ اْلاَجْوَدِيْنَ
“Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Ya Allah, limpahkan kasih sayang kepada junjnhan kami Muhammad, dan keluarga junjungan kami Muhammad, Ya Allah, anugrahkan rizqi padaku di dalamnya pengetahuan (hati yang jernih) dan kesadaran, jauhkan aku di dalamnya dari kebodohan dan kepalsuan, dan jadikan padaku bagian dari setiap kebaikan yang diturunkan di dalamnya dengan kedermawanan-Mu wahai Yang Maha Dermawan dari semua yang dermawan (Mafâtihul Jinân: bab 2).
      Saudaraku, Allah ‘Azza wa Jalla melipatgandakan pahala ibadah sosial kita di bulan suci Ramadlan. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw: “Barangsiapa yang beribadah pada bulan Ramadhan dengan satu perbuatan sunnat, maka pahalanya seperti pahala ibadah wajib pada bulan-bulan lainnya. Barangsiapa yang melakukan satu ibadah wajib di dalamnya, maka pahalanya sama dengan melakukan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaraan, dan pahala sabar adalah surga. Bulan Ramadhan adalah bulan keleluasaan (untuk beribadah), dan bulan di mana rizki setiap mukmin ditambahkan. Barangsiapa memberikan (makanan, minuman, dlsb. untuk) buka kepada orang yang sedang berpuasa pada bulan Ramadhan, maka baginya akan diampuni dosa-dosanya, akan dibebaskan dari sentuhan api neraka. Baginya pahala sebagaimana pahala yang diterima oleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami dapat memberikan makanan dan minuman berbuka untuk orang yang berpuasa?” Rasulullah saw bersabda: “Allah akan memberikan pahala tersebut juga kepada yang memberikan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa sekalipun hanya dengan sebiji kurma, seteguk air atau sedikit susu” (Riwayat Ibnu Khuzaimah).
       Saudaraku, kita semestinya menyadari dengan kita menjalani ibadah puasa, bahwa kebutuhan kita hanyalah makan, minjm, dan pakaian sewajarnya. Selebihnya, harta kita akan bermakna dalam perjalanan panjang hidup kita di akhirat nanti, adalah yang kita sedekahkan kepada orang lain. Terlebih lagi apabila kita bisa menyisihkan untuk sedekah jariyah, seperti membangun masjid, mushalla, rumah sakit, madrasah, TPQ, jalan raya, dan lain-lain, maka setiap tempat dan fasilitas umum tersebut digunakan oleh orang lain, maka selama itu pula, kita akan mendapatkan pahala secara terus menerus berkesinambungan.
       Pada akhir Ramadlan, kita dan seluruh keluarga diwajibkan membayar zakat fitrah dan zakat mal, bagi yang sudah memiliki lebih dari satu nishab (melebihi 85 gram mas/penghasilan pertahun) dan rentang waktu ketercukupan dalam satu tahun. Ibadah puasa kita nanti, akan diterima oleh Allah SWT, apabila sudah dibayar zakat fitrah dan zakat malnya. Rasulullah saw mengingatkan kita:
 عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( شهر رمضان معلق بين السماء والأرض ولا يرفع إلى الله إلا بزكاة الفطر) .
Riwayat dari Jarir bin Abdullah ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda : “(Pahala Puasa) bulan Ramadlan digantung di antara langit dan bumi, dan tidak diteruskan kepada Allah, kecuali dengan (dibayar) zakat fitrahnya”.
       Dalam Sunan Abi Dawud dijelaskan,
وقد ثبت في سنن أبي داود (1609) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : ( فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ) وحسنه الألباني في صحيح سنن أبي داود
Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw memfardlukan (mewajibkan) zakat fitrah untuk mensucikan orang yang puasa dari (ucapan dan perbuatan) sia-sia dan ucapan jorok (rafats) untuk memberi makan orang-orang miskin). Dihasankan olehnAl-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud.
       Saudaraku, kiranya dari ilustrasi di atas, sangat jelas dan tegas, bahwa ibadah puasa sejatinya adalah nasehat dan pembelajaran pada kita, agar kita menjadi hamba Allah yang dermawan. Selain pahalanya yang dijanjikan Allah juga berlipat ganda, adalah karena harta akan memiliki makna yang berarti adalah manakala harta itu kota sedekahkan pada orang lain atau untuk lembaga untuk kepentingan umum, terlebih untuk kaum fakir miskin. Semoga kita makin dermawan dan makin ikhlas mengulurkan tangan kita kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Waffaqana Allah ila aqwam th-thariq wa ahaqq s-sabil.
       Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *